Rendahnya Penghargaan Masyarakat Akan HAKI Memasung Kreatifitas

Teknopreneur

Penghargaan masyarakat akan sebuah karya akan memicu munculnya karya-karya lain. Karena memang sifat dasar manusia butuh untuk dihargai. Tentu saja penghargaan yang diharapkan dari masyarakan bukan hanya sekedar standing applause, tapi juga penghargaan secara materi, eksistensi seorang pencipta/penemu, dan penghargaan-penghargaan lainnya. Sebaliknya, bila suatu karya tidak mendapatkan penghargaan yang layak, maka jangan pernah berharap karya-karya kreatif bermunculan.

Penghargaan terhadap karya cipta bagaikan pupuk bagi tanaman kreativitas. Ia akan membuat benih-benih kretivitas yang ditanam tumbuh subur dan menghasilkan banyak buah. Namun bila tanaman-tanaman tadi dibiarkan tidak terurus maka akan layu dan mati, dan tidak kan pernah tumbuh kembali.

Bagaimana efek bagi para creator dari keengganan masyarakat dalam menghargai hak cipta orang lain pernah saya gambarkan di sini. Seorang penulis atau pengembang CD interaktif dengan niat yang baik dan semangat membara akan beralih profesi bila tidak mendapatkan penghargaan (baca: penghasilan) yang layak atas karya-karyanya karena ia harus memenuhi kebutuhan diri dan keluarga.

Untuk menjamin penghargaan terhadap suatu karya cipta, dan agar kreativitas terus tumbuh dan berkembang, maka pemerintah membuat undang-undang yang kita kenal dengan undang-undang HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Keberadaan undang-undang HAKI untuk memberikan perlindungan hukum yang diberikan oleh Negara kepada seseorang dan atau sekelompok orang ataupun badan yang ide dan gagasannya telah dituangkan ke dalam bentuk karya cipta apabila suatu karya (inovasi) tersebut didaftarkan sesuai dengan persyaratan yang ada.

Beberapa karya cipta yang dapat didaftarkan diantaranya adalah karya kesusastraan, artistik, hasil penelitian atau penemuan ilmiah, seni pertunjukan, kaset audio video, desain industri, merek dagang, nama usaha, dll.

Namun dengan adanya undang-undang HAKI bukan berarti masalah terselesaikan. Masalah utamanya justru terletak pada kesadaran masyarakat dalam menghargai karya orang lain yang begitu rendah. Rendahnya penghargaan masyarakat ini akan memasung industri-industri kreatif. Bila rendahnya penghargaan masyarakat ini terus berlanjut, tidak mustahil bila harapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa ekonomi kreatif akan tumbuh dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi hanyalah mimpi belaka.

Rendahnya penghargaan masyarakat ini sebenarnya berakar dari ketidaktahuan mereka bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah tindakan yang salah. Tindakan keliru ini terus dipelihara oleh Lingkungan dengan mudahnya mendapatkan barang ilegal/bajakan. Tanyakan saja pada teman kuliah atau teman kantor dimana ia bisa mendapatkan film Transformer. Saya pastikan jawabannya adalah pedagang CD kaki lima atau penjual CD film yang banyak bertebaran di Mall yang megah. Coba pula tanyakan kebeberapa teman di fakultas IT atau tehnik dimana ia bisa mendapatkan software Auto CAD yang original. Mungkin ia butuh mikir agak lama untuk menjawab pertanyaan tersebut atau malah menjawab, “Buat apa? Cari aja di rental software”.

Pernah suatu saat saya bertanya terhadap seorang teman mengapa dirinya membeli software bajakan. Ia malah kaget dan balik bertanya, “bagaimana mungkin ini palsu? Harganya 50 ribu”. Mungkin ia mengira kisaran harga 50 ribu merupakan harga yang pas untuk sebuah software asli/legal seperti halnya CD original sebuah film lokal.

Faktor edukasi ini sangat penting dan mendesak karena saat ini masyarakat mengira bahwa yang mereka lakukan bukanlah suatu kesalahan karena sudah lumrah atau biasa. Bahkan ada juga yang sudah “berfatwa” bahwa membajak untuk pendidikan tidak masalah, atau “Mcrosoft kan udah kaya”. Ironis memang. Tapi tentu kita tidak percaya kalau kesalahan yang yang sudah menjadi kebiasaan otomatis berubah menjadi kebenaran.

Polemik Jadwal Shalat Subuh

Beberapa waktu lalu banyak beredar di milis dan internet tentang jadwal shalat subuh yang terlalu maju dari yang di syari’atkan oleh Allah dan Rasulullah. Pagi tadi saya juga mendapatkan SMS tetang hal serupa. Sementara ini saya masih belum yakin 100% akan kebenaran informasi ini. Saya takutnya ini hanyalah semacam hoax yang menghiasi belantara internet.

Siang ini kebetulan browsing ke www.sabily.org dan mendapatkan “Muezzin bot” sebagai posting teratas. “Muezzin bot” ini semacam robot yang otomatis mengirimkan pesan waktu shalat melalui instant messenger yang berbasis protocol Extensible Messaging and Presence Protocol (XMPP). Salah satu pengguna protokol ini adalah Google dengan Google Talk-nya. Jadi untuk mendapatkan pesan pengingat solat ini anda harus memiliki account yang berbasis protocol XMPP.

Setelah membuat account dan mengikuti tutorial segala macamnya di sini, akhirnya saya bisa mengecek jadwal shalat untuk daerah jakarta dimana saya tinggal. Settingannya pun cukup mudah dengan hanya menambahkan id muezzin@jabber.org dan menentukan lokasi keberadaan kita.

Berikut adalah jadwal yang muncul menurut perhitungan Umm Al-Qura, Makkah:

(05:15:27 PM) muezzin@jabber.org: Fajr: 04:44
(05:15:27 PM) muezzin@jabber.org: Sunrise: 05:58
(05:15:28 PM) muezzin@jabber.org: Dhuhr: 11:58
(05:15:28 PM) muezzin@jabber.org: Asr: 15:17
(05:15:28 PM) muezzin@jabber.org: Sunset: 17:54
(05:15:28 PM) muezzin@jabber.org: Maghrib: 17:54
(05:15:28 PM) muezzin@jabber.org: Isha: 19:24

Selain perhitungan menggunakan standard Umm Al-Qura, ada juga standar yang lain. Diantaranya adalah Muslim World Legue, Islamic Society of North America (ISNA), Institute of Geophysics University of Tehran, dll. Namun demikian, saya tidak tahu bagaimana cara standar-standar tersebut menghitung jadwal shalat sebagaimana saya juga tidak tahu bagaimana Depag menghitung :( .

Berkenaan dengan polemik jadwal shalat shubuh, kira-kira jadwal yang dihasilkan oleh “Muezzin bot” ini sama dengan jadawal terbitan Departemen Agama atau malah berbeda ya? saya ingin membandingkan keduanya atau beberapa jadwal ini tapi mesti balik bekerja. :(

Update :

Polemik waktu shalat subuh yang dimuat di majalah Qiblati Silahkan Dowload di sini.

Ada tulisan pembanding juga di sini

Sedikit Cerita Tentang Hati

Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah foto seorang sahabat di internet. Foto yang bagus sebenarnya, namun ketika saya konfirmasi kepada pemiliknya, ia merasa tidak pernah meng-upload-nya ke internet. Mungkin lupa ato tanpa sengaja foto-foto tersebut ter-upload ke account friendster.com dia.

Beberapa hari kemudian saat saya kembali mengunjungi account sahabat saya tadi, saya tidak menemukan kembali foto-foto yang dulu terpasang. hem.., mungkin sahabat saya sengaja menghapus foto-fotonya karena merasa tidak menguploadnya.

Pagi ini saya berselancar menuju facebook.com, dan tanpa sengaja pula menemukan foto-foto yang sebelumnya dihapus dari account freindster. tentu saja hal ini wajar-wajar saja mengingat begitu gemilangnya facebook di dunia maya. Saya pikir tidak sedikit orang yang beralih ke facebook setelah sekian lama menjadi pelanggan setia friendster.

Bukan migrasi dari frienster ke facebook yang saya soroti. Hanya saja sequence dari peristiwa meng-upload, menghapus, upload lagi, ntah kelak dihapus lagi mungkin, merupakan trigger bagi saya untuk memikirkan hati manusia yang begitu mudah berubah. mengingatkan saya akan sebuah do’a:

“Ya.. muqallibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala to’atika wa ‘ala diinika”.

Memang esensi dari do’a tersebut bukanlah perubahan berbagai keputusan standar seperti mengganti hiasan rumah, merubah thema wordpress, menghapus dan memasang foto atau hal lain yang semisal. Esensi do’a tersebut berbicara tentang keimanan, dan keteguhan kita akan dien ini. saya berdo’a agar keimanan, ketakwaan dan keteguhan dalam menjalankan dien ini tidak berkuarang atau bahkan lepas dari genggaman. Na’udzu billah.

Warna Hidup

Hemm…!, akhir pekan kemarin dapat pinjaman CD film dengan judul “Jagad X-code” (kalo pinjam CD film original untuk ditonton doank, tidak termasuk kategori membajak kan?). Film ini bercerita tentang tiga orang pemuda yang tinggal di sekitar Kali Code Yogyakarta, tentu saja disertai dengan berbagai permasalahan.

Salah satu adegan yang membuat saya tersenyum miris adalah gambaran seorang tukang cukur rambut yang biasa mangkal di salah satu sudut Alun-alun (kurang jelas sih Alun-alun Kidul apa Lor). Seorang tukang cukur yang sedang gundah karena alat cukurnya hilang dicuri dan dia tidak bisa membeli alat cukur yang baru. Mudahnya, penghasilannya sebagai tukang cukur tidak mencukupi untuk membeli alat cukur baru.

Begitu banyak fenomena seperti diatas. Banyak pedagang kaki lima yang penghasilannya tidak bisa untuk memperbaiki atau membuat gerobak baru. Bila gerobak itu rusak ia harus pontang-panting mencari pinjaman untuk memperbaikinya.

Idealnya, penghasilan seseorang mestinya bisa mencukupi untuk memperbaiki atau membeli barang-barang penunjang produktifitas dia. Seorang petani mampu membeli benih dan pupuk untuk bercocok tanam, para nelayan mampu mengibarkan layarnya tanpa harus bingung mengutang BBM, dan… sudah ah, ntar kayak iklan partai jadinya.

Kenyataan seperti itu tidak hanya dikalangan masyarakat kecil aja. Dikalangan professional juga meski tidak semua. Banyak teman-teman programmer mesti menabung sekian bulan untuk membeli sebuah hard disk external, apalagi untuk membeli satu unit notebook atau desktop, pasti nabungnya mesti berbulan-bulan atau mungkin ada yang bertahun-tahun???…

What Are We Really Needed?

Seorang wanita muncul dihadapanku dan bercerita banyak hal tentang masalah yang dia hadapi. Belum lama ini ia tanpa sengaja mengunjungi facebook.com dan mendapati bahwa kekasihnya memiliki teman perempuan lebih banyak daripada teman laki-laki dibagian friends di facebook.com tersebut. Ia merasa tidak nyaman dan mencoba mengkomunikasikan dengan kekasihnya. Tentu saja tidak dengan wajah sumringah.he3x…

Kini percikan api yang amat kecil, bahkan bukan berarti apa-apa bagi orang lain, menjadi besar dan hubungan yang telah dibina terancam binasa. Dan saya, tentu saja hanya sebagai teman ngobrol dan pendengar yang baik tentunya :) .

Yang muncul dalam dalam benak saya ketika itu, mengapa mereka terjebak terhadap hal-hal yang seperti itu. tidakkah mereka berpikir, apa yang sebenarnya ia butuhkan dan harapkan dari pasangannya. mungkin saja yang perempuan hanya ingin sedikit perhatian, dan yang laki-laki hanya butuh sedikit kelonggaran. Hemm.., siapa yang tahu!?

Masalah serupa tapi tak sama. Bila saya sedang membangun rumah dan suatu ketika saya ingin mempercepat proses pembangunan rumah tersebut, Tentu saja yang akan saya lakukan adalah menambah tukang bangunan yang membangun rumah saya, bukan menambah mandor yang hanya mengawasi kerja tukang. Menambah mandor tidak akan mempercepat proses penyelesaian rumah tersebut. Kecuali jika pembangunan rumah ini dilakukan pada jaman penjajahan, yang setiap atasan bisa berbuat apa saja terhadap bawahannya. Termasuk memaksanya bekerja dua puluh empat jam sehari. Atau mandornya adalah orang yang begitu baik sehingga mau bersanding bersama tukang, menata bata dan mengaduk semen, serta mengerjakan banyak hal yang semestinya diselesaikan oleh tukang (Tapi kayaknya yang seperti itu bukan mandor namanya. Tapi mandor merangkap tukang).

Dalam kasus pembangunan sebuah rumah seperti yang saya contohkan diatas, mungkin anda tidak akan mengira kalau banyak orang  justru memilih untuk menambah mandor dari pada tukang. Banyak persoalan tidak dapat diselesaikan justru karena para pengambil keputusan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka dibutuhkan. Masih tidak percaya? Gambar dibawah ini mungkin bisa meberikan penjelasan yang lebih baik.

Dunia Nyata, Dunia Maya

Dalam dunia nyata, terjadi banyak perdebatan bagaimana memperbaiki sebuah institusi agar lebih baik. Beberapa kalangan menyarankan agar orang buruk penyebab kebobrokan sebuah institusi ‘dibabat habis’ dan digantikan dengan orang-orang yang bersih. Inti dari pendapat ini mengatakan, untuk menjadi lebih baik yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah orang-orang yang ada di dalamnya. Bila tidak bisa diperbaiki maka orang-orang tersebut mesti diganti dengan orang-orang yang bersih.

Pendapat yang kedua adalah merubah system yang ada sehingga institusi yang buruk tersebut menjadi lebih baik. Dengan sistem yang baik, diharapkan dapat membatasi setiap tindakan buruk yang mungkin terjadi atau dilakukan oleh orang yang berniat buruk.

Memang dari dua pendapat tersebut tampak bertentangan. Namun bisa diambil jalan tengah dengan melakukan keduanya secara bersamaan. Tentu saja dengan effort yang lebih besar.

Disisi lain, dunia maya tampaknya berbeda pendapat dalam menangani masalah institusi yang buruk ini. Kenyataan di dunia maya, memperbaiki/mengganti user yang berhubungan langsung dengan infrastruktur maya tidak akan memberi pengaruh apa-apa tanpa mengganti system/rule bisnis yang ada. Jadi untuk memperbaiki infrastruktur maya mutlak diperlukan perbaikan sistem yang ada.

Gampangnya, anda tidak mungkin mengatakan pada setiap orang, jangan download ini, jangan kunjungi situs ini, dll. Atau berteriak keseluruh ruangan “Tolong dunk, yang lagi download dipause dulu!” :D

Disini Virus, Disana Virus….

Dua tiga hari ini cukup melelahkan bagiku. Pergi kerja, obrolannya tentang virus komputer yang menyerang hanya beberapa saat setelah komputer di install. Ketemu tetangga, tanya tentang anti virus yang paling ampuh. Main tempat saudara, lagi mo install komputer yang terkena virus.

Sebenarnya hal seperti ini bukan sesuatu yang baru bagiku. Mengingat saat-saat di Jogja, hampir setiap hari komputer berdatangan minta diinstall ulang karena masalah virus ini. Tentu saja pake windows bajakan untuk install ulang he3x. Tobat dech. Cuma ini yang aku bisa untuk dekat dengan teman-temanku dan gak begitu merepotkan :D (Alasan yang ku buat-buat he3x).

Kali ini yang saya hadapi masalah yang sama tapi orang-orangnya berbeda. Orang-orang yang saya bicarakan saat ini adalah orang-orang yang berprofesi dibidang IT. Bukan masalah besar bagi mereka, cm begitu melelahkan. Tapi yang membuat saya nervous, banyak dari mereka yang menghadapi masalah ini seperti baru pertama kali mereka temui. Glagapan istilah jawanya, dan install ulang jawabannya. :D

Mestinya mereka banyak belajar, bila mereka menggunakan sistem yang rentan terhadap serangan, sudah seharusnya mereka membentengi sistem mereka dengan berbagai tools keamanan yang banyak tersedia di internet secara bebas. Atau mempersiapkan penanganan secara cepat bila sistem tiba-tiba jebol.

Contoh paling senderhana untuk mengamankan sistem yang rentan adalah:

  1. lakukan update sitem operasi secara berkala. Bila terdapat koneksi internet, lakukan update secara otomatis.

  2. Aktifkan firewall dan tutup port-port yang tidak diperlukan.

  3. update anti virus setiap hari atau update otomatis bila terdapat koneksi internet.

  4. Gunakan beberapa tools pengaman seperti Deep Freeze atau yang lainnya.

  5. Lakukan kloning sistem operasi sebagai backup.

  6. Jangan lupa buat backup untuk data anda.

Tiga Langkah Menggapai Sukses

Lagi pengen ngedit “About me” tapi bingung mau di isi apa. Soalnya g biasa menceritakan diri sendiri sich. Hem… kayaknya harus memulai dengan metode ATM nich. Saya kurang tahu siapa yang mempopulerkan plesetan dari ATM yang satu ini. Yang pasti kok terus terngiang-ngiang di kepala. Denger-denger metode ini adalah salah satu metode untuk menapaki jalan menuju sukses. Tentu saja sukses di dunia dan dalam artian dunia pula. Sukses di dunia bukan hanya berarti hanya dalam keakayaan aja lho..

Sesuai singkatannya ATM terdiri dari tiga langkah. Langkah yang pertama adalah “Amati” artinya saya mesti cari referensi sebanyak mungkin referensi, contoh, dan lain-lain tentang apa yang ingin saya capai. Dalam artian kali ini saya mesti cari contoh tulisan yang berisi tentang “about us”. Bila anda ingin sukses sebagai programmer, maka carilah contohcontoh kode program yang berjibun di dunia open source. Bila ingin jadi pengusaha sukses, perhatiin usaha2 yang sudah dibangun oleh mereka yang sukses. Mudah bukan? Tahap pertama memeng lebih mudah dari tahap berikutnya.

Langkah yang kedua adalah “Tiru”. Yups!, Ditiru aja dulu dari apa yang telah didapat. Bisa juga dengan menggabungkan beberapa referensi yang ada sesuai dengan keperluan. Jangan lupa cantumkan referensi yang didapat dan jangan sampai melanggar hak cipta orang lain.

Ketiga adalah “Modifikasi”. Dari hasil yang kita pelajari dari langkah kedua, silahkan modifikasi dan beri nilai lebih. Tentu saja agar lebih laku di pasaran he3x… ingat jurus sakti ini tidak hanya berhenti di sini. Terutama langkah yang ketiga mesti lakukan secara kontinyu.

Ok itu saja dulu. Good luck!

Ditulis dalam Coretan Pena. Tag: , . 1 Komentar »

Jalan Yang Ingin Kutempuh

Suatu saat di tengah kesibukan kantor.

Dzul: “Kok semua pada main Facebook. Apasih manfaat Facebook?”
Gun: “Banyak Dzul. Ya kayak bersosialisasi, tapi di dunia maya. Ya.., Seperti kita ngobrol, Apasih manfaatnya ngobrol!?”
Dzul: “Lalu apa manfaatnya Facebook bila pekerjanmu gak selesai-selesai!?”
Gun: “!@#$%^&”

(Tertunduk diam, tapi isi kepalanya mulai memberontak)
Otak Kiri: “Benar juga tuh…”
Otak Kanan: “Gak bisa gitu dunk. Kmu juga klo gak diselingi istirahat gak bisa ngapa-ngapain.”
Otak Kiri: “Ya gue butuh selingan biar terus cemerlang :D
Otak Kanan: “Lagian ini juga kerjaan Kreatif yang juga tergantung mood, sikon, suasana hati & lingkungan, dan banyak hal lainnya.”
Otak Kiri: “Bener sih. Kecuali kalau kerjaannya cuma copy writer atau ngitung duit.”
Otak Kanan: “ah.., itu mah asal logistiknya terjaga aja :) …”
Otak Kanan: “Tapi yang paling penting nich, gw g ingin hidup lo cm buat kerja. Jangan sampai terkontaminasi oleh kaum urban.”
Otak Kiri: “Tapi bagaimana kalau dibilangin,ngapain aja selama dua jam. Atau yang lebih ektrim, apa gunanya setiap sore ke masjid tapi kerjaan g kelar. Apa gunanya sholat kalo lo tetep korupsi waktu.”
Otak Kanan: “Jangan Takut kawan. Gak ada hubungannya semua itu dengan hasil kerja. Bahkan mungkin sambil bermain, justru kreativitas kita bisa muncul. Itu namanya fallacy logic. Eh, jangan-jangan logika gw yang fallacy nich. Diluar semua itu, lo tau kan manusia itu kebanyakan berorientasi pada hasil. Mana peduli mereka dengan cara!?.”
Otak Kiri: “????….”
Otak Kanan: “:) … !@$%^ :)

(Dan diskusipun  terus berlanjut…..)

NB. Kalau diperhatikan, dialog diatas, otak kanan lebih mendominasi & lebih superior. Kalo dibilang gak adil, ya terserah gw. Itukan subjektif gw. Dan gw ingin otak kanan gw lebih dominan dalam menjalani hidup yang you know lah…

Kenyataan Tentang Hidup?

Suatu waktu saya nonton sebuah film. Tapi sayang lupa judulnya. Satu sesi di film tersebut, terdapat dialog antara seorang ibu dengan putrinya.

Ibu: “nduk, kalo kamu dilahirkan oleh orang tua yang miskin, ikhlas aja. karena seorang bayi gak bisa memilih siapa orang tuanya. Tapi nduk, kalo cari pasangan hidup, kamu bisa milih pasangan yang kaya.”

Putri: “Tapi pacarku, meski miskin tapi dia baik, dan akan terus baik padaku selamanya.”

Ibu: “Apa gunanya orang baik yang miskin!? Ayahmu selalu baik pada ibumu ini hingga ia meninggal. Tapi keadaan kita tetap susah dan tidak pernah bisa menikmati hidup.”

Putri: “???…&^%!@#$……” (Bingung mikir arti hidup..)