pepatah kita

Beberapa kata telah dikemas sangat menarik oleh orang-orang sebelum kita hinnga menjadi sebuah kalimat yang kita sebut sebagi kata mutiara atau pepatah. Pepatah atau kata mutiara ini bisa jadi diambil dari ungkapan sesorang yang terkenal seperti Abu Bakar As-Shiddik, Umar Al-Faruq, Ustman Dzunurain, Ali Murtadlo, Soekarno, Aristoteles, plato,karl marx, dan tokoh-tokoh lainnya. Atau bisa jadi kata mutiara tersebut tidak pernah diketahui asal usulnya, namun bukan berarti pepatah tersebut muncul secara tiba-tiba seperti halnya teori Carles Darwin he he he…………

Saat ini telah terkumpul jutaan atau bahkan milyaran kata mutira. Beberapa penulis telah mengumpulkannya dalam sebuah buku yang bisa kita dapatkan di toko-toko buku terdekat. Bukan promosi lhooooooo. Namun biarlah semua itu tejadi, mau jutaan buku atau apasajalah tentang kata mutiara.“terserah”. Namun kepasrahan tersebut membuat satu pertanyaan yang memerlukan pembahasan lebih lanjut. Bisakah semua kata mutiara atau pepatah yang sudah jauh berumur tersebut diterapkan pada zaman ini?.

Di zaman yang arus informasinya begitu cepat ini, seharusnya kita sudah mulai membuang pepatah-pepatah yang membatasi ruang dan waktu gerak kita yang sudah tidak sesuai lagi dengan zaman ini. Alon-alon waton kelakon-nya orang jawa misalnya, bukanlah ide cerdas lagi yang mampu memberikan langkah-langkah cemerlang untuk menggapai sukses. Bayangkan, di zaman teknologi manusia yang telah melampaui kecepatan suara dengan pesawat supersoniknya. Orang jawa hanya mampu merangkak sambil berkata dengan bangga, “ pelan-pelan asal terlaksana”. Bukankah seharusnya kita tanamkan dalam diri kita sebuah ungkapan “ cepat dan terlaksana” sebagai pepatah baru sekaligus semangat juang kita menuju sukses.

Contoh yang lain adalah kalimat kebanggan kita orang-orang muslim dalam berinfak. Sedikit tidak masalah asal ikhlas. Kalimat ini ternyata tidak mampu menjawab tantangan untuk mengembalikan kejayaan islam sebagai pusat kebudayaan dan peradaban dunia. Walau sebenarnya penyebab kemunduran umat ini tidak hanya pepatah usang itu saja. Namun pepatah yang sudah mendarah daging ini mempunyai pengaruh yang besar untuk memajukan umat ini. Oleh karena itu sudah sepantasnya pepatah tersebut diganti dengan pepatah yang lebih pas untuk saat ini di mana umat sedang membutuhkan kucuran dana yang begitu besar untuk menjalankan berbagai program kerja. Tanamkanlah dalam jiwa kita “berinfak yang banyak dan ikhlas” dan terapkanlah dalam hidup demi kemajuan umat ini.

Satu lagi, sebenarnya sih masih banyak, yang perlu kita dobrak dalam hidup ini. Sebuah fenomena yang sangat tragis pada orde baru yang tidak lama berlalu hingga saat ini, yaitu eksistensi minoritas atas mayoritas. Kemenangan minoritas dalam banyak hal. Sebuah kelompok minoritas yang mampu mempengaruhi berbagai aspek di negara kita bukan berarti mereka begitu kuat. Justru kelompok mereka bisa jadi amat lemah. Lalu kenapa mereka begitu diunggulkan di negara kita?. Kenapa mereka dimanja dengan berbagai fasilitas yang tidak pernah kita dapatkan?. Kelompok minuritas mampu menginjak-injak penduduk pribumi dan orang-orang pribumi tak mampu melawan. Hal ini terjadi karena sebuah sistim toleransi yang dibentuk oleh sebuah pepatah, “ yang lebih tua harus mengalah atau yang kuat harus menopang yang lemah”. Pepatah ini menyirat sebuah arti, yang kuat, dengan besar hati, harus berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan si lemah jika mereka bekerja bersama.

Di abad 21 ini sebuah pertanyaan perlu diajukan untuk mengkritisi pepatah tersebut.. Siapakah yang harus menyesuaikan diri, “kuda” yang yang mampu lari dengan cepat harus ikhlas merangkak untuk mendampigi sang “siput” ataukah “siput” yang harus bekerja keras mengimbangi laju sang “kuda” untuk tetap bersama, atau ia harus menerima dengan besar hati jika sang “kuda” jauh meninggalkannya. Siapakah yang perlu disalahkan jika mereka berpisah. “Kudakah” yang egois atau “siput” yang tidak tahu diri. Yang pasti kita harus sadar bahwa zaman telah berubah, bahwa kita harus sama-sama bergerak cepat untuk sukses.

Akhirnya, marilah kita biarkan pepatah-pepatah tersebut menjadi mutiara-mutiara kata yang disimpan dalam beberapa lembaran yang tertutup rapat. Biarlah ia menjadi hiasan rak-rak buku perpustakaan. Atau biarlah ia hanya sekedar menjadi dongeng kakek-nenek yang renta. B i a r l a h ! ! !

Iklan

“pemerasan” model baru

hari lahir atau ulang tahun kelahiran, mungkin bagi sebagian umat manusia adalah suatu hari yang patut dirayakan kedatangannya. Bagi mereka yanng biasa merayakannya mungkin bukan suatu masalah besar, namun coba dibayangkan bila seorang mahasiswa baru yang datang dari kampung yang mungkin tak pernah peduli dengan ulang tahun kelahirannya tiba-tiba “dipaksa” ( meski secara halus dan sopan) untuk merayaknnya. Karena bila tidak merayakan, konsekuensi yang didapat seperti sindiran hingga beberapa hari setelahnya sangat tidak mengenakkan, bahkan perayaan yang tidak dirayakan tepat pada hari kelahirannya akan dibebankan sebagai utang yang harus dibayar dikemudian hari. Permasalahan ini akan menjadi beban yang begitu berat bila uang saku atau besar kiriman yang diterima setiap bulannya sangat pas-pasan.

mungkin maksud teman-teman dekat yang “memaksa makan-makan” adalah sebuah bentuk perhatian seorang sahabat dekat dengan susah payah menghafal hari lahir, seminggu sekali membuka catatan biodata, dan bentuk-bentuk perhatian semu lainnya. Tapi, apakah bentuk perhatian seperti itu bisa dibenarkan? Seperti itukah perhatian yang tulus dari seorang sahabat? Pantaskah kita membebani saudara tercinta dengan keinginan kita? Bukankah sahabat yang baik tak hanya menemani disaat bahagia? Bila ini yang kita lakukan, apakah kita benar-benar sahabatnya? Entahlah! Mungkin hanya ketulusan sejati yang mampu menjawab semua itu, ketulusan untuk berkorban demi kekasih tercinta.

Perayaan ulang tahun kelahiran yang cukup sederhana ini (biasanya diisi makan-makan dengan kurang lebih lima hingga sepuluh orang teman yang katanya dekat) akan sedikit menghibur bahkan begitu menggugah bila dana perayaan tidak dibebankan kepada yang bersangkutan, apalagi disertai dengan percikan-percikan hadiah yang cukup mengesankan. Tak harus mahal, hanya sekedar bentuk cinta kita dan ketulusan untuk berkorban demi sahabat serta sebagai jalan tuk menjadi kawan sejati yang selalu dirindukan. Memang ini bukan pengorbanan yang begitu berarti, tapa ini sebagai awal merubah diri menjadi lebih baik dan berguna bagi sekeliling kita. Bukankah muslim yang baik adalah muslim yang yang bermanfaat bagi tetangganya?

GNU/Linux ! Keren Banget…

Belajar GNU/Linux tidak sesulit apa yang dibayangkan banyak orang. Intinya Cuma mau mencoba dan membaca. Banyak penyedia jasa pendidikan berbasis GNU/Linux yang ada menetapkan tariff yang sangat tinggi dibanding pelatihan computer yang berbasis windows, Namun bila kita mau mencoba dan membaca, GNU/Linux bisa jadi merupakan ilmu yang paling murah dan mudah. Bayangkan saja, bila di windows kita butuh beli buku banyak Karena windows sendiri tidak menyediakan tutorial aplikasinya dengan lengkap. Berbeda dengan GNU/Linux, setiap aplikasi yang diluncurkan secara free tutorial aplikasinya yang lengkap dan selalu diperbaiki disediakan secara free pula. Bila kita tidak memiliki aksess internet yang tidak terbatas atau sangat mahal, duduklah di warnet-warnet terdekat selama kurang lebih tiga jam dan anda akan mendapatkan lebih dari yang anda bayangkan.
Apa yang bisa dipelajari dari GNU/Linux?GNU/Linux tidak hanya berkutat didunia server dan jaringan yang begitu rumit. Di GNU/Linux kita bisa dapatkan Open Office sebagai ganti dari pada Microsoft Office, The Gimp yang begitu popular layak menggantikan Corel Draw dan photoshop, dan Totem sebagai bisa menggantikan Power DVD ataupun winamp, serta masih banyak aplikasi-aplkasi lainnya yang tak kalah dengan aplikasi yang berjalan di windows.
Untuk aplikasi akuntansi GNU Cash mampu menggeser MyOB Accounting maupun DEA diwindows. Dan bila kita sedikit penasaran kita bisa mengubah aplikasi yang ada sesuai kehendak kita Karena kode sumber (source code) penyusun aplikasi tersebut dibagikan secara free.
Untuk virus…………..? ih amit-amit, di GNU/Linux virus takkan berkutik. setidak-tidaknya bisa dikatakan GNU/Linux bebas virus hingga sepuluh tahun yang akan datang bila GNU/Linux tidak pernah diken\mbangkan lagi mulai saat ini. Kenyataannya kan lain, GNU/Linux terus dikembangkan bahkan oleh jutaan orang didunia ini hingga mungkin GNU/Linux relative aman selamanya hehehe…..
Yang jauh lebih menarik bagi pemula nih………, tampilannya begitu mengesankan dan tampak ilegan dan indah banget. Pokoknya diGNU/Linux hanya butuh kebiasaan saja, ya berhadapan dengan GNU/Linux satu minggu cukuplah untuk membiasakan diri di Open Office dan Totem. Jadi dari sisi manapun GNU/Linux tetep keren banget. Mulai dari pemakainya yang membuat setiap orang tercengang, hingga tampilan grafisnya yang memukau. setidaknya bagi saya sendiri, terutama yang mebuat penasarannya itu lho….

mencoba belajar darinya

Sebuah istilah atau pepatah barat mengatakan, think big act small start now. Berpikir besar mengerjakan dari hal-hal yang kecil dan mulailah dari sekarang. Berpikir besar bukan berarti bualan indah yang dilarang oleh Allah dan rasulnya. Namun berpikir besar adalah memikirkan masa depan yang cemerlang dengan konsep-konsep yang logis sebagai sandaran ataupun acuan menuju apa yang dicita-citakannya. Dalam makna secara singkat adalah visi dan misi.
Setiap manusia mempunyai tujuan hidup yang diharapkan, dan bagi seorang muslim cita-cita mulianya adalah mardlatillah. Cita-cita yang sangat mulia. Rasulullah mengajarkan suatu konsep yang jauh lebih “canggih” dari pepatah diatas. Yaitu tauhid dan jihad. Karena keduanya inilah, dalam berbagai medan pertempuran, musuh-musuh islam merasa salut atas keberanian tentara muslim. Mereka seakan-akan tidak percaya bahwa seorang tentara muslim mempunyai semangat begitu besar. Bukan semangat ’45 tapi semangat badar.
Kandungan dan pengertian kalimat tayyibah “laa ilaha illa Allah”, merupakan sebuah statement, shahadah (kesaksian) serta proklamasi kemerdekaan martabat kemanusiaan bagi setiap muslim, yang nilainya jauh melampaui makna declaration of independence dan human right yang dihembuskan dari negeri barat. Nilai tauhid yang seperti inilah yang membuat seorang muslim selalu merasa percaya menghadapi orang lain, tidak pernah merasa takut karena yang pantas ditakuti hanya Allah semata. Tidak yang lain.

Pribadi muslim yang berpijak pada fondasi tauhid tidak pernah akan merasa goncang karena di hatinya sudah terpatri kalimat laa ilaha illa Allah. Tidak kamus rendah diri dalam jiwanya karena dalam sanubarinya tertanamkan rasa rendah hati yang tulus yang tidak akan pernah didapatkan dengan cara berfikir rasional. Subhanallah makna hidup bagi seorang muslim, adalah suatu lahan yang harus diolah, dan karenanya dapat memberikan makna pada kehidupan itu, seorang muslim memandang kehidupan ini sebagai arena yang memberikan empat cakupan penting yaitu : tantangan (challenge), kekuatan (power), peluang/kesempatan (oportunity), dan perjuangan (fighting).

Seorang muslim diharapkan untuk memasyarakat, ia dituntut untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Dimanapun ia berpijak semua orang akan menyenanginya. Lebah adalah sebuah permisalan bagi orang-orang muslim, lebah hanya maub pada yang baik, menghasilkan yang baik dan memberi manfaat bagi selainnya serta mempunyai harga diri yang tinggi yang membuat setiap orang segan padanya. Apalah arti hidup, bila eksistensi diri menjadi suatu petaka bagi lingkungannya.
Hidup mulia atau mati sahid adalah motto bagi setiap pejuang muaslim, walau mati sebagai suhada bukan hanya mati tersungkur karena bayonet. Motto ini juga memberi dorongan untuk selalu berkompetisi walau dasar yang lebih sesuai adala Qur’an surat Al ‘asr. Selain itu ketentuan Allah bahwa setiap manusia adalah kholifah, menunjukkan bahwa sitiap muslim harus mempunyai jiwa kepemimpinan. Artinya, setiap muslim harus mampu mempengaruhi orang lain, membangkitkan antusiasisme lingkungan, bergaul dengan mudah, dan memecahkan segala problem yang ada. Rasulullah pun mengajarkan sebuah do’a kepada umatnya, “rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyatina qurrata a’ yun, wa ja’alna lil muttaqina imama”.

Di bukunya DR. Schwartz mengarjarkan pada peserta sebuah pelatihan, untuk mencapai sukses harus dimulai dengan hal-hal yang kecil, seperti duduk dibarisan terdepan dalam seminar ataupun kuliah. Dan rasulullah dalam enam belas abad yang lalu mengajarkan para shahabatnya untuk shalat dalam shaf yang terdepan. Muhammad mengajarkan pada umatnya untuk menbarkan kasih sayang, dalam generasi pertama ini ancaman tentang adab neraka dan janji akan surga tidak banyak mempengaruhi tindakan mereka. Mereka menta’ati Allah dan rasulnya lebih banyak didasari oleh kecintaan mereka pada Allah dan muhammad serta dien ini. Bagaimana rasulullah mampu membuat para sahabat mencintainya? Ia tahu bahwa salah satu sifat dasar manusia adalah hasrat untuk menjadi penting. Dalam majlis-majlis yang diadakan oleh rasul, semua sahabatnya merasa bahwa dialah yang paling mendapat perhatian rasul.wallahu ‘alam

Memasukkan Dunia kedalam botol kecil?

Hukum tuhan mengenai alam adalah suatu ketetapan yang pasti sebagaimana yang dapat kita pelajari dalam ilmu alam atau ilmu fisika. Apakah Tuhan tidak mampu menentang hukum-hukum yang ia buat sendiri ? jika jawabannya adalah ia maka pertanyaannya benarkah tuhan itu maha kuasa?.

Ketapan tuhan bukan berarti menunjukkan ketidak kuasaanNya atas hukumnya sendiri. Namun lebih menunjukkan ego (kesombongan) tuhan yang ia tunjukkan kepada manusia, “Siapakah yang lebih menepati janji daripada aku(Allah)?” Sebuah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.

Ingat sebuah kalimat yang begitu menakjubkan dariseorang albert einsten,”Tuhan tidak bermain dadu dengan penciptaan alam”. Bayangkan saja andai Tuhan menghianati janji(hukum) yang ia tetapkan sendiri untuk menunjukkan kekuasaannya atas segalanya. Wah kalau saya takkan pernah bisa membayangkan. Hukum gravitasi yang timbul, kemudian tiba-tiba menghilang.sifat air tiba-tiba berubah menjadi gas atau malah membatu tanpa sebab, atau hukum-hukum alam yang lain yang tiba-tiba menghilang atau berubah seratus delapan puluh derajat misalnya. Entahlah mungkin tulisan ini takkan pernah ada karena alam mungkin tidak akan pernah ada.

Kalau kita coba melihat sejarah, bukti kekuasaan Allah yang tak terbatas termasuk melewati hukum-hukumnya (sebenarnya juga tidak), bisa kita dapatkan pada pembakaran ibrahim oleh namrudz atau pelarian musa dari fir’aun. Lengkapnya bisa kita saksikan pada berbagai mu’jizat para rasul. Manusia sebagai bagian dari alam tentunya juga terikat atas hukum-hukumnya. Namun jangan pernah lupa bahwa manusia diberi suatu kelebihan yang tak pernah diberikan pada selain manusia itu sendiri. Termasuk malaikat sekalipun. Kelebihan ini adalah otoritas manusia (akal). Manusia diberi kebebasan menentukan pilihan dengan berbagai konsekuensi yang ada. Namun demikian kebebasan manusia dalam menentukan apa saja (berbagai pilihan ) tak akan pernah terlepas dari ketapan Allah. Hal ini bukan berarti Allah menetukan semua gerak manusia. Ketetapan Allah bagi manusia adalah kepastian akan adanya dua jalan, jalan kebatilan dan jalan kebenaran (kebenaran menurut Allah tentunya). Artinya Allah, secara garis besar, menetapkan adanya dua jalan tadi, dan otoritas manusia dalam memilih tidak akan pernah melenceng dari dua jalan tersebut. Hanya ada surga dan neraka dan Tidak akan ada alternatif yang lain. Jika tidak demikian, segala tingkah-tingkih manusia sudah ditentukan misalnya, lalu apagunanya Allah memerintahkan untuk berfikir?. Apagunanya akal yang telah Allah ciptakan?. Bukankah tidak akan berbeda dengan malaikat kalau seperti itu?. Sebuah pepatah mengatakan, ” Men can’t change a history but he can make it”. Begitu pula Takdir, Ia adalah suatu hal yang sudah terjadi. Ia adalah masa lalu. Sebuah sejarah. Masa depan tidak bisa kita sebut sebuah takdir. Untuk masa depannya, manusia hanya tahu bahwa ia ditakdirkan untuk menghadapi berbagai macam pilihan, tidak lainnya.
Dalam hidup, manusia dihadapkan oleh berbagai pilihan dengan konsekuensi yang ada. Bila Ia membenarkan suatu agama misalnya, maka mau tidak mau, langsung maupun tidak ia telah mengkafirkan agama yang lain. Itulah konsekuensinya. Bila ia sudah memihak pada suatu kebaikan maka ia akan melumatkan kejelekan. suatu hal yang bertentangan takkan pernah mau untuk sama-sama eksis. Adalah suatu kepastian bahwa keduanya akan saling mengungguli. Saling menghancurkan, bahkan bisa dikatakan segala cara dihalalkan untuk menjaga eksistensi dirinya. Yang merasa benar (terlepas kebenaran menurut siapa atau kebenaran darimana tentunya) akan memerangi apa saja yang dianggap salah.

Lalu, bagaimana harus memilih ? kebenaran yang mana yang sesuai dengan kebenaran menurut tuhan ?

Sebuah kisah. Saya mulai dengan melepas baju agama. Saya menjadi seorang ateis, saya anggap tuhan tidak ada. Namun dalam keateisan tersebut banyak pertanyaan yang takterjawab yang membuat saya yakin akan keberadaan suatu realitas tertinggi yang di indonesia disebut tuhan. Konsekuensi dari pilihan tersebut adalah mengakui salah satu agama karena tidak mungkin untuk mengakui seluruh agama yang ada karena konsep ketuhanan yang diajarkan berbeda atau bahkan bertentangan. Hingga saya berpikir, konsep ketuhanan yang mana yang bisa diterima oleh akal manusia?. Jika seluruh agama tidak mampu menjawab pertanyaan saya maka saya akan menciptakan sebuah agama yang baru. Namun islam mampu memberikan konsep ketuhanan yang sempurna.

Sebuah permisalan. Andaikata seorang manusia telah meyakini akan kebenaran pada konsep ketuhanan Islam maka konsekuensinya ia akan menerima semua apa yang ada di dalamnya. Tanpa terkecuali. Inilah yang disebut dengan islam kaffah

Sebagai penutup, aku terkesan dikala duduk termenung menyelesaikan tulisan ini, terlintas sebuah kalimat yang tertuang dalam sebuah kalender yang tergantung tepat di belakang monitor. “Agama itu mudah maka janganlah dipersulit”. Sebuah kalimat yang mungkin kurang pas untuk saat ini Namun tetap tak bisa dihilangkan. Oleh karena itu jika boleh (dan harus boleh) saya rubah sedikit menjadi “ agama itu mudah maka janganlah dipermudah”. Ingat islam itu elastis namun jangan ditarik-tarik sekehendak hati. Wallahu ‘alam Bis Shawab