Memasukkan Dunia kedalam botol kecil?

Hukum tuhan mengenai alam adalah suatu ketetapan yang pasti sebagaimana yang dapat kita pelajari dalam ilmu alam atau ilmu fisika. Apakah Tuhan tidak mampu menentang hukum-hukum yang ia buat sendiri ? jika jawabannya adalah ia maka pertanyaannya benarkah tuhan itu maha kuasa?.

Ketapan tuhan bukan berarti menunjukkan ketidak kuasaanNya atas hukumnya sendiri. Namun lebih menunjukkan ego (kesombongan) tuhan yang ia tunjukkan kepada manusia, “Siapakah yang lebih menepati janji daripada aku(Allah)?” Sebuah pertanyaan yang tak memerlukan jawaban.

Ingat sebuah kalimat yang begitu menakjubkan dariseorang albert einsten,”Tuhan tidak bermain dadu dengan penciptaan alam”. Bayangkan saja andai Tuhan menghianati janji(hukum) yang ia tetapkan sendiri untuk menunjukkan kekuasaannya atas segalanya. Wah kalau saya takkan pernah bisa membayangkan. Hukum gravitasi yang timbul, kemudian tiba-tiba menghilang.sifat air tiba-tiba berubah menjadi gas atau malah membatu tanpa sebab, atau hukum-hukum alam yang lain yang tiba-tiba menghilang atau berubah seratus delapan puluh derajat misalnya. Entahlah mungkin tulisan ini takkan pernah ada karena alam mungkin tidak akan pernah ada.

Kalau kita coba melihat sejarah, bukti kekuasaan Allah yang tak terbatas termasuk melewati hukum-hukumnya (sebenarnya juga tidak), bisa kita dapatkan pada pembakaran ibrahim oleh namrudz atau pelarian musa dari fir’aun. Lengkapnya bisa kita saksikan pada berbagai mu’jizat para rasul. Manusia sebagai bagian dari alam tentunya juga terikat atas hukum-hukumnya. Namun jangan pernah lupa bahwa manusia diberi suatu kelebihan yang tak pernah diberikan pada selain manusia itu sendiri. Termasuk malaikat sekalipun. Kelebihan ini adalah otoritas manusia (akal). Manusia diberi kebebasan menentukan pilihan dengan berbagai konsekuensi yang ada. Namun demikian kebebasan manusia dalam menentukan apa saja (berbagai pilihan ) tak akan pernah terlepas dari ketapan Allah. Hal ini bukan berarti Allah menetukan semua gerak manusia. Ketetapan Allah bagi manusia adalah kepastian akan adanya dua jalan, jalan kebatilan dan jalan kebenaran (kebenaran menurut Allah tentunya). Artinya Allah, secara garis besar, menetapkan adanya dua jalan tadi, dan otoritas manusia dalam memilih tidak akan pernah melenceng dari dua jalan tersebut. Hanya ada surga dan neraka dan Tidak akan ada alternatif yang lain. Jika tidak demikian, segala tingkah-tingkih manusia sudah ditentukan misalnya, lalu apagunanya Allah memerintahkan untuk berfikir?. Apagunanya akal yang telah Allah ciptakan?. Bukankah tidak akan berbeda dengan malaikat kalau seperti itu?. Sebuah pepatah mengatakan, ” Men can’t change a history but he can make it”. Begitu pula Takdir, Ia adalah suatu hal yang sudah terjadi. Ia adalah masa lalu. Sebuah sejarah. Masa depan tidak bisa kita sebut sebuah takdir. Untuk masa depannya, manusia hanya tahu bahwa ia ditakdirkan untuk menghadapi berbagai macam pilihan, tidak lainnya.
Dalam hidup, manusia dihadapkan oleh berbagai pilihan dengan konsekuensi yang ada. Bila Ia membenarkan suatu agama misalnya, maka mau tidak mau, langsung maupun tidak ia telah mengkafirkan agama yang lain. Itulah konsekuensinya. Bila ia sudah memihak pada suatu kebaikan maka ia akan melumatkan kejelekan. suatu hal yang bertentangan takkan pernah mau untuk sama-sama eksis. Adalah suatu kepastian bahwa keduanya akan saling mengungguli. Saling menghancurkan, bahkan bisa dikatakan segala cara dihalalkan untuk menjaga eksistensi dirinya. Yang merasa benar (terlepas kebenaran menurut siapa atau kebenaran darimana tentunya) akan memerangi apa saja yang dianggap salah.

Lalu, bagaimana harus memilih ? kebenaran yang mana yang sesuai dengan kebenaran menurut tuhan ?

Sebuah kisah. Saya mulai dengan melepas baju agama. Saya menjadi seorang ateis, saya anggap tuhan tidak ada. Namun dalam keateisan tersebut banyak pertanyaan yang takterjawab yang membuat saya yakin akan keberadaan suatu realitas tertinggi yang di indonesia disebut tuhan. Konsekuensi dari pilihan tersebut adalah mengakui salah satu agama karena tidak mungkin untuk mengakui seluruh agama yang ada karena konsep ketuhanan yang diajarkan berbeda atau bahkan bertentangan. Hingga saya berpikir, konsep ketuhanan yang mana yang bisa diterima oleh akal manusia?. Jika seluruh agama tidak mampu menjawab pertanyaan saya maka saya akan menciptakan sebuah agama yang baru. Namun islam mampu memberikan konsep ketuhanan yang sempurna.

Sebuah permisalan. Andaikata seorang manusia telah meyakini akan kebenaran pada konsep ketuhanan Islam maka konsekuensinya ia akan menerima semua apa yang ada di dalamnya. Tanpa terkecuali. Inilah yang disebut dengan islam kaffah

Sebagai penutup, aku terkesan dikala duduk termenung menyelesaikan tulisan ini, terlintas sebuah kalimat yang tertuang dalam sebuah kalender yang tergantung tepat di belakang monitor. “Agama itu mudah maka janganlah dipersulit”. Sebuah kalimat yang mungkin kurang pas untuk saat ini Namun tetap tak bisa dihilangkan. Oleh karena itu jika boleh (dan harus boleh) saya rubah sedikit menjadi “ agama itu mudah maka janganlah dipermudah”. Ingat islam itu elastis namun jangan ditarik-tarik sekehendak hati. Wallahu ‘alam Bis Shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s