“pemerasan” model baru

hari lahir atau ulang tahun kelahiran, mungkin bagi sebagian umat manusia adalah suatu hari yang patut dirayakan kedatangannya. Bagi mereka yanng biasa merayakannya mungkin bukan suatu masalah besar, namun coba dibayangkan bila seorang mahasiswa baru yang datang dari kampung yang mungkin tak pernah peduli dengan ulang tahun kelahirannya tiba-tiba “dipaksa” ( meski secara halus dan sopan) untuk merayaknnya. Karena bila tidak merayakan, konsekuensi yang didapat seperti sindiran hingga beberapa hari setelahnya sangat tidak mengenakkan, bahkan perayaan yang tidak dirayakan tepat pada hari kelahirannya akan dibebankan sebagai utang yang harus dibayar dikemudian hari. Permasalahan ini akan menjadi beban yang begitu berat bila uang saku atau besar kiriman yang diterima setiap bulannya sangat pas-pasan.

mungkin maksud teman-teman dekat yang “memaksa makan-makan” adalah sebuah bentuk perhatian seorang sahabat dekat dengan susah payah menghafal hari lahir, seminggu sekali membuka catatan biodata, dan bentuk-bentuk perhatian semu lainnya. Tapi, apakah bentuk perhatian seperti itu bisa dibenarkan? Seperti itukah perhatian yang tulus dari seorang sahabat? Pantaskah kita membebani saudara tercinta dengan keinginan kita? Bukankah sahabat yang baik tak hanya menemani disaat bahagia? Bila ini yang kita lakukan, apakah kita benar-benar sahabatnya? Entahlah! Mungkin hanya ketulusan sejati yang mampu menjawab semua itu, ketulusan untuk berkorban demi kekasih tercinta.

Perayaan ulang tahun kelahiran yang cukup sederhana ini (biasanya diisi makan-makan dengan kurang lebih lima hingga sepuluh orang teman yang katanya dekat) akan sedikit menghibur bahkan begitu menggugah bila dana perayaan tidak dibebankan kepada yang bersangkutan, apalagi disertai dengan percikan-percikan hadiah yang cukup mengesankan. Tak harus mahal, hanya sekedar bentuk cinta kita dan ketulusan untuk berkorban demi sahabat serta sebagai jalan tuk menjadi kawan sejati yang selalu dirindukan. Memang ini bukan pengorbanan yang begitu berarti, tapa ini sebagai awal merubah diri menjadi lebih baik dan berguna bagi sekeliling kita. Bukankah muslim yang baik adalah muslim yang yang bermanfaat bagi tetangganya?

8 thoughts on ““pemerasan” model baru

  1. “pemerasan” model baru, kurasa itu ungkapan yang sangat tepat menurutku, karena beberapa tahun yang lalu (sebelum hijrah) setiap kali hari ultahku selalu saja saya dipaksa untuk memeras otak tuk mentraktir teman-teman, padahal saya benar-benar kere (kaciaaaaan dech)

  2. Poligami yang membuat para kyai cabul adalah atas nama Alloh. Padahal jelas sekali poligami merendahkan derajat wanita. Membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

  3. Poligami merupakan sebuah wacana yang cukup kontroversial di kalangan ummat Islam.Kontroversial karena penafsiran terhadap surah An Nisa ayat 3 yang menjadi dalil argumentasi yang membenarkan poligami didominasi oleh penafsiran yang bias kelaki-lakian dimana perempuan / istri yang dimadu hanya dijadikan obyek pasif yang tidak memiliki hak apa-apa.Bahkan dalam wacana-wacana kelompok radikal Islam , penolakan seorang istri terhadap keinginan suaminya untuk menikah lagi dianggap sebagai bentuk kedurhakaan bahkan dianggap sebagai bentuk penentangan terhadap hukum Allah.
    Makna adil seperti yang disyaratkan dalam ayat tersebut pun direduksi sedemikian rupa sehingga dianggap hanya keadilan jasmaniyah seperti makan , minum , pergiliran dll , padahal penafsiran ini tidaklah didukung satu nash pun , bahkan Allah s.w.t sendiri berfirman dalam ayat 129 dalam surah yang sama “wa lan tastathii’uu an ta’diluu bainannisaa-i walau harastum” (dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian) , tetapi ayat ini terkesan disembunyikan oleh kalangan yang mendukung wacana pro poligami.

  4. Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.

  5. ulang tahun kok nyampe nya agama langit dan bumi, trs poligami…
    mang ada yah titik temunya?
    ato jng2:
    poligami itu pemerasan oleh agama langit dan bumi yang dijadikan hadiah ulang tahun gitu yah…hehehe….
    welah tambah ngelantur….hiks hiks hiks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s