Membajak Menghambat Dakwah

Kalau kita pikir lebih sederhana lagi, tentang fenomena membajak di negeri ini, kita akan sampaipada kesimpulan bahwa membajak tersebut menghambat dakwah kita sebagai seorang muslim. Pernyataan ini bisa saja merupakan penjelasan bebas saya mengenai pernyataan klasik seperti “membajak menghambat kreativitas” dan pernyataan-pernyataan sejenis lainnya.

Bayangkan saja misalnya sebuah buku yang ditulis oleh Harun Yahya (hehe… baru aja beli nih) di bajak. Bisa saja Harun Yahya ikhlas bukunya di bajak demi kepentingan dakwah, bahkan ia tidak peduli karena ia menulis demi kebenaran yang ia yakini dan ia juga percaya kalau rezeki sudah ada yang mengatur dan bisa datang dari mana saja.

Berharap bukunya laris sih pasti karena itu manusiawi meskipun termasuk prioritas nomer sepatu (mengambil istilah nomor urut calon legislative yang bernomor besar). Tetapi seandainya buku yang ditulis tak kunjung membuahkan hasil secara finansial, bisa saja ia berubah profesi karena ia merupakan suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anaknya. Apalagi biaya yang dibutuhkan untuk riset sangat tinggi. Ya setidaknya butuh uang untuk membeli buku sebagai bahan referensi.

Nah sekarang coba kita pikirkan para penulis atau para pengembang CD interaktif yang sekarang banyak kita jumpai, juga pembuat software atau karya apa saja yang semisal dengan hal itu. Jika karya-karya mereka dibajak dan mereka tidak mendapatkan financial yang layak dari karya tersebut, suatu saat pasti beralih profesi.

Dari dua contoh diatas, akhirnya bisa disimpulkan bahwa benar juga tuch pembajakan dapat menghambat kreatifitas, juga menghambat laju dakwah bagi para da’i yang media dakwahnya lewat tulisan (buku) atau CD. Kesimpulan ini hanya di buat sekedarnya dengan pola pikir yang sederhana. Kalo ada yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut monggo…

Demam Panggung Tidak Mesti di Atas Panggung

Malam ini tanggal 08 April 2007, ini malam terakhirku berada di jogja, bukan berarti aku mau pindah ke kota lain atau akan meninggalkan jogja selamanya atau setidaknya dalam jangka waktu yang lama, tidak. malam ini hanyalah malam terakhirku di jogja sebelum aku berangkat ke semarang esok pagi. ya hanya sekedar main aja tidak lebih. dua tiga hari kemudian aku pastikan sudah bermalam di kosku lagi, di pinggiran jalan solo yang ramai, jauh lebih ramai saat aku pertama kali menginjakkan kaki di bumi sultan ini beberapa tahun silam.

entah kenapa, bukan hanya malam ini saja aku nervous saat akan meninggalkan jogja. rasanya memang agak berat setiap kali aku meninggalkan kota ini. apa mungkin hatiku sudah menyatu dengan kota ini, ah tidak juga kota ini biasa aja tidak jauh berbeda dengan kota yang lain. terus ada apa ya????

aku tidak tahu apa yang terjadi. coba kupikir lagi dan lagi, ternyata rasa nervous ini pasti datang saat aku mau berpergian agak jauh dari tempatku menetap. dulu kala aku lama di madura, rasanya juga sama saat aku mau pergi keluar kota. waktu tinggal di jombang juga sama. apa aku mudah jatuh cinta dengan sebuah kota?? haha…. masa iya? tapi biarlah, meski perasaan ini tidak umum terjadi diantara teman-teman yang aku tanyai, tapi rasanya aku masih normal lho… paling-paling perasaan itu datang karena aku akan dihadapkan dengan situasi yang baru atau berbeda, itu saja yang kupikir saat ini. dari
pada setres mikirin perasaan yang gak karuan malah nanti jadi beban yang akhirnya membuat aku tidak normal. ih takut juga tuh.

ya… mungkin perasaan ini semacam demam panggung aja. kayak dulu waktu presentasi dikelas pertama kali. belum presentasi aja udah basah duluan untung aja pas di depan gak ngompol. kalo sekarang gak ada lagi nervous dikelas, tapi kalo audience-nya berbeda, bapak-bapak atau bayi-bayi bisa agak gemetar juga sih.

Menjaga Sistem Tetap Aman

sejak mengenal komputer, masalah yang paling banyak saya hadapi adalah virus, worm, dan semisalnya. masalah tersebut bukan nongkrong pada komputer pribadi saya, tetapi menyerang komputer teman-teman dari jurusan lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan komputer dan tidak mau tahu dengan kesehatan komputernya. yang mereka tahu komputernya semakin melambat, hang dan lainnya. bagi sebagian orang yang tahu bagaimana mempertahankan komputer dari berbagai serangan, masalah diatas mungkin tidak begitu memberatkan. ingat, “windows juga aman bila dipegang oleh orang yang
tahu akan keamanan system komputer”.

masalahnya saya gak bisa menolak setiap rengekan yang meminta saya untuk mengatasi masalah diatas. apalagi yang meminta cewek, cakep lagi!!!. hem sudah pasti gak tega ngucapin kata tidak. saya coba untuk mencari solusi baru. bagaimana cara agar mereka bisa menjaga komputer mereka sendiri. ya tentunya biar saya gak repot sih. sebenarnya gak susah-susah amat menjaga sistem biar tetap aman meski gak seratus persen aman sih! terutama untuk komputer stand alone dan tidak terhubung dengan internet setiap saat. kan internet mahal.

menjaga sistem saya katakan mudah karena saya coba untuk mempermudah masalah saja. kalo kita berpikir lebih luas tentang keamanan system, wah berbagai aspek bisa ikut nebeng dan gak akan selesai dibahas selama satu semester. tapi kalo dianggap mudah, menjaga keamanan system itu semudah menjaga berbagai utilitas keamanan untuk tetap up to date itu aja.

masalahnya pandangan terhadap keamanan sistem yang udah minimalis tadi masih sangat susah untuk dikomunakasikan
dengan orang lain, apalagi yang udah kena sindrom instanisme. alasannya macam-macam, bisa gak tahu cara downloadnya, email aja jarang pake, gak bisa mengapdate dan lain-lain. ya akhirnya saya masih tetap repot, repot ngajarin cari updetan anti virus repot nemenin kewarnet, katanya takut salah. tapi ya udahlah gak papa.sesekali aku liatin komputerku saat mereka main ke kos, pake linux bebas masalah!!!

satu lagi, banyak seminar/ workshop tentang keamanan sistem tapi tidak satupun yang ditujukan untuk pengguna awam, kebanyakan hanya untuk orang-orang computer science. atau mungkin aku aja ya yang kurang informasi hehe…., tapi kalo perkiraanku bener yuk sekali-kali, para aktifis di bidang ITC ngadain acara buat pengguna awam.