Bisakah Kita Berlaku Adil?

sebagai manusia sosial sudah selayaknyalah untuk saling membantu. berdasarkan konsep manusia sosial inilah saya sering sekali merasakan bantuan teman-teman saya bahkan orang-orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya baik dengan sengaja atau bahkan bantuan itu datang tanpa saya duga dan kadang saya juga tidak sadar kalau itu semua adlah bantuan. sebagai rasa sukur, sayapun mencoba membantu siapa saja yang butuh bantuan saya dengan sebisa mungkin dan seikhlas mungkin tentunya. saling membantu juga meningkatkan rasa kedekatan yang lebih dari pada hanya sekedar pertemanan saja. atau mungkin itulah inti persahabatan. selain itu tolong menolong juga merupakan salah satu sarana untuk berinteraksi dengan orang lain.

berkenaan dengan menolong orang lain saya mencoba untuk berlaku adail terhadap mereka, saya membantu karena saya bisa membantu, bukan karena yang lain. namun pada kenyataannya berlaku adil dalam membantu orang ini cukup menyulitkan juga, karena setiap orang yang kita temui itu berbeda. ada yang suka memaksa, ada yang gak peduli, yang cantik, ada yang baik, ada yang suka ngasih hadiah, ada yang kurang menyenagkan dan lain-lain.

ada juga yang menilai semuanya dengan uang, bagi sebagian orang ini cukup menyebalkan. orang seperti ini sih tidak bisa disalahkan juga karena mungkin niatnya juga baik. hanya penempatannya saja yang kurang pas. saya pernah melihat teman saya semalaman memperbaiki komputer temannya. dan keesokan harinya ketika pemilik komputer itu datang teman saya tidak mau dibayar sambil berkata: “besok saja kalau saya buka kios reparasi komputer baru kamu boleh bayar”. beberapa teman saya jauh lebih senang motornya kembali dengan bensin full tank atau sebungkus roti bakar setelah motornya di pinjam selama dua hari dari pada disodori dengan uang tigapuluh ribu yang nilainya lebih besar dan lebih berarti dari pada roti atau bensin yang seharga 15.000,00. ada juga teman yang lebih bisa memhami materi kuliah kalau yang jelasin teman sendiri sambil nonton televisi dari pada dijelaskan oleh dosen dengan gelar doktor. tapi ada juga yang kalau tidak mengajari temannya ia merasa belum paham.

begitulah didunia ini penuh dengan keanekaragaman, kalau mau marah, jengkel dan yang semisalnya mungkin setiap lima menit kita mesti sakit hati karena setiap orang mesti ada sisi buruknya. saya sendiri mencoba (walau sangat tidak mudah) untuk memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya tanpa melihat seperti apa orangnya. mencoba enjoy dengan semua orang. tapi sampai saat ini tampaknya belum bisa. ada kecenderungan saya memperlakukan orang yang saya senangi berbeda dengan orang yang menurut saya menjengkelkan, tidak hanya senang dan tidak yang menjadi parameter, tapi banyak sekali parameter lain yang membuat saya memperlakukan orang dengan cara berbeda untuk setiap orang. Saya jadi berpikir bagaimana rasanya kelak kalo saya poligami. ah.., mikirnya terlalu jauh nich!, mikir kuliah dulu ah. Lagian…  “Adil ≠ Sama rata”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s