Aku Yang sok Tahu

Saat pertama kali memasuki dunia kampus, ada seorang teman yang mengutarakan isi hatinya. Ia ragu terhadap apa yang diperbuat. Teman-teman yang ia kenal mengatakan bahwa ia adalah seorang yang munafik, sok alim, dan lain sebagainya. Ia bertanya kepada saya “apa benar ia adalah seorang munafik?”. Saya mencoba menjawab sebisa saya dan mencoba meyakinkan bahwa dirinya bukanlah orang munafik. Semua yang ia hadapi hanyalah cobaan bagi seorang yang menginkan tuk menjadi lebih baik. Semua ungkapan yang bernada miring hanyalah ocehan yang tak pantas untuk mendapatkan perhatian. Orang lain akan melihat siapa yang munafik dan siapa yang bukan.

Saya bukanlah ahli agama yang mampu membuat orang yakin dengan dalil-dalil yang bisa ia utarakan. Saya hanya sekedar menyampaikan argumen-argumen yang menurut saya cocok. Misalkan saja bila saya suka membelai rambut seorang wanita dan saya mampu melakukannya, namun saya tidak mau berbuat seperti itu, apa saya pantas untuk dicap sebagai orang munafik? Bila saya senang mengendarai mobil mewah dan saya mampu untuk membeli mobil tersebut, namun saya berkata tidak untuk membelinya. Apakah saya termasuk orang-orang yang berbuat nifak? Bukankah tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki. Bukankah tidak semua yang mampu kita lakukan harus kita kerjakan. Bukankah nifak itu menyembunyikan kekafiran dan berpura-pura menjadi orang yang beriman.

Sebisa mungkin saya mencoba untuk meyakinkan sahabat saya. namun tampaknya berbagai argumen yang saya sebutkan untuk meneguhkan hatinya tak mampu membuat wajahnya kembali bersinar. Bagaimana mungkin argumen yang saya sampaikan bisa ia terima. Saya sendiripun merasa ragu dengan argumen yang saya lontarkan. Bagaimana dengan orang lain. Bila saya diminta pendapat akan sebuah masalah yang tidak saya kuasai, maka saya akan bingung sendiri dengan berbagai argumen yang saya utarakan. Mungkin saya mesti belajar agar tidak gengsi untuk mengatakan “saya tidak tahu” atau “saya tidak bisa”. Tapi setelah dipikir-pikir saya banyak terbantu dengan sifat saya yang sok tahu. Banyak hal yang akhirnya membuat saya benar-benar tahu.

Bila saya bilang bisa, belum tentu saya bisa. Tapi biasanya saya punya sedikit gambaran akan apa yang saya lakukan. Pernah saya diminta untuk merakit sebuah komputer. Padahal saya waktu itu belum tahu apa-apa tentang komputer. Mengenal komputer saja saat mulai kuliah. Setelah saya menyanggupi permintaan untuk merakit sebuah komputer, hari-hari saya tenggelam dalam beberapa buku panduan merakit komputer. Ketekunan dalam mempelajari buku-buku merakit komputer dalam waktu satu minggu membuat saya tidak lagi menjadi orang yang sok tahu dalam bidang merakit komputer, namun benar-benar tahu. Saya bersukur, kesombongan saya tidak membuat saya lupa dan mencari jalan pintas untuk menyelesaikan masalah. Eh.., apa yang saya lakukan ini termasuk kategori sombong? Saya hanya merasa bisa mengerjakan sesuatu yang akhirnya benar-benar membuat saya bisa. Jadi kupikir-pikir, merasa bisa bukan sebuah bentuk kesombongan (CMIIW). Bukankah sombong itu mengingkari kebenaran? Entahlah.., wallahu ‘alam.

2 thoughts on “Aku Yang sok Tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s