Kernel panic? Jangan Ikut Panik

Di pagi hari yang dingin aku mencoba meng-compile kernel. Setidaknya untuk menghilangkan rasa kantuk yang terus menyerang. Kupikir harus mencari kesibukan agar tidah terjatuh di atas kasur. Karena bila sudah bersembunyi dibawah selimut tebal, bisa dijamin semua kegiatanku berantakan.

Kompilasi berjalan dengan lancar. Dimulai dari meng-extract kernel versi 2.6.23.9 yang ada pada DVD Infolinux edisi Februari hingga instalasi modul dan konfigurasi boot looder. Lengkapnya yang kulakukan sebagai berikut:

  1. Sebagai langkah awal saya login sebagai root.
  2. $ su –
    Password:

  3. Mengekstrak kernel vanilla dari DVD.
  4. # cd /usr/src
    # tar -xjvf /media/DVDROM/linux-2.6.23.9.tar.bz2
    # cd linux-2.6.23.9
    # make oldconfig
    # make menuconfig

  5. Konfigurasi kernel sesuai kebutuhan dan mulai mengkompilasi dengan perintah
  6. # make bzImage
    # make modules
    # make modules_install

  7. kopikan semua file yang dibutuhkan dari hasil kompilasi
  8. # cp arch/i386/boot/bzImage /boot/vmlinuz-2.6.23.9
    # cp System.map /boot/System.map-2.6.23.9
    # cp .config /boot/config-2.6.23.9

  9. Berikutnya buat file initrd menggunakan tool mkinitrd. Bacalah manualnya terlebih dahulu karena dari pengalaman, beberapa distro memiliki format penulisan perintah yang berbeda. Tapi biasanya tanpa menyertakan opsi apa-apa, tool ini bisa bekerja dengan baik. Paling tidak hanya opsi file sistem yang akan diload saja yang mesti diikutkan. Berikut panduan singkat penulisan perintah ini.
  10. usage: mkinitrd [–version] [-v] [-f] [–preload <module>]
    [–omit-scsi-modules] [–omit-raid-modules] [–omit-lvm-modules]
    [–with=<module>] [–image-version] [–fstab=<fstab>] [–nocompress]
    [–builtin=<module>] [–splash=<resolution>] [–dsdt-file=<path to file>]
    <initrd-image> <kernel-version>

    (ex: mkinitrd /boot/initrd 2.6.21-kateos)

    Seperti yang saya sebut diatas dan seperti ini pula yang saya lakukan bila membuat file initrd. Saya hanya mengetikkan perintah:

    # mkinitrd –with=ext3 –image-version /boot/initrd 2.6.23.9

  11. Langkah yang terakhir adalah konfigurasi di Grub. Tambahkan pada file /boot/grub/menu.lst konfigurasi berikut ini.
  12. title Kernel 2.6.23.9
    root (hd0,4)
    kernel /boot/vmlinuz-2.6.23.9 ro root=/dev/hda5 vga=791 splash=silent quiet
    initrd /boot/initrd-2.6.23.9

    Sesuaikan konfigurasi dengan sistem anda. Gampangnya kopikan saja konfigurasi untuk kernel yang telah ada sebelumnya dengan merubah nama kernel dan initrd-nya.

  13. Booting ulang komputer kemudian pilih kernel baru saat memasuki boot loader.

Setelah semua selesai dengan harap-harap cemas. Seperti biasa saya pilih untuk memulai booting menggunakan kernel yang baru. Tapi hasilnya? Akh…!!! Tidak…!! Komputerku tidak bisa booting. Tidak ada satu login shell yang muncul untuk memberi salam sebagai mana biasanya. Sambuatan yang ada hanya senyum kecut yang keluar dari monitor sambil berkata dengan nada sedih “kernel panic …bla… bla…”. Tidak jelas apa kelanjutan pesan itu karena memang tidak kuperhatikan. Yang ada dibenak hanya membuat file initrd yang baru dengan semua opsi yang ada.

Mulai kutekan tombol reset yang bisa mereboot ulang komputerku kemudian kupilih untuk booting menggunakan kernel yang lama. Setelah proses booting selesai, komputerku berjalan dengan baik (tentu saja ini karena menggunakan kernel bawaan distro yang belum ku sentuh). Aku login dengan user root dan memasukkan password dengan sedikit buru-buru. Setelah berhasil kubuat kembali file initrd.

# cd /boot

# mkinitrd -f -v –with=ext3 –image-version –fstab=/etc/fstab –splash=1024×768 initrd 2.6.23.9

Beberapa opsi sudah kutambahkan. Booting ulang komputer sebagaimana sebelumnya dan aku pilih kernel yang baru. Akh..! “Kernel panic” lagi?.

“Apanya yang salah ya?” pikirku. Huh.., kumatikan komputer dan kutinggal pergi mencari amunisi. Maklum pagi hari yang dingin perutku tidak bisa kompromi. Ya sudah , seperti manusia indonesi kebanyakan, perut is number one.

Makan dengan tergesesa-gesa, kembali ke kos, dan kunyalakan komputer dengan kernel yang lama. kubaca kembali konfigurasi kernel. Siapa tahu salah pencet dan tidak memasang file sistem ext3. Tapi ternyata tidak seperti yang kupikirkan. Semua baik-baik saja. Ku baca manual mkinitrd dengan seksama. Tidak ada masalah. Coba buat lagi dan restart komputer, tapi hasilnya tidak berubah. Hem… lelah juga akhirnya. Ya sudah kupilih istirahat sejenak. Tapi istirahat? Mungkin fisiknya aja yang terlentang, otaknya tetap melayang.

“ah.., aku coba aja buat initrd menggunakan kernel lama. Kalau ini bisa berarti masalahnya bukan di initrd ” kataku dalam hati.

Akhirnya dengan penasaran kuketikkan juga perintah membuat file initrd dengan opsi -v agar aku tahu apa yang dilakukan tool ini saat pembuatan file berlangsung. Kubandingkan juga outputnya bila menggunakan kernel yang baru:

# mkinitrd -v -f –with=ext3 –fstab=/etc/fstab –splash=1024×768 initrd 2.6.21.4-kateos
….
Loading module ide-disk
Loading module jbd
Loading module ext3

 

# mkinitrd -v -f –with=ext3 –fstab=/etc/fstab –image-version –splash=1024×768 initrd 2.6.23.9

Loading module ide-disk
Loading module ext3

Ups.., lihat! Kernel yang lama me-load tiga buah module dan kernel yang baru hanya dua. Berarti harus memaksa initrd untuk kernelyang baru me-load module “jbd” juga nich. Akhirnya Sebuah harapan muncul karena perbedaan jumlah module ini. Kucoba ketikkan perintah:

# mkinitrd -v -f –preload jbd –with=ext3 –fstab=/etc/fstab –image-version –splash=1024×768 initrd 2.6.23.9

kucoba untuk restart ulang komputernya dan akhirnya nyala juga. “Alhamdulillah” ujarku pelan. Mungkin tidak kedengaran karena sangat pelan. Tapi sebenarnya aku masih bertanya-tanya kenapa bisa demikian. Maksudku kenapa dengan perintah yang sama, opsi dan parameternya juga sama tetapi bisa menghasilkan output yang berbeda hanya karena kernelnya yang berbeda. Apa mungkin karena kernelnya? PR aja lah, kan kucari kapan-kapan.

Iklan

Tuliskan saja semuanya!

Banyak yang beranggapan kalau menulis itu karena bakat. Atau banyak juga yang beralasan kalau ia sedang tida memiliki ide untuk menulis. Wuih.., kalau alasanku karena malas saja untuk menulis. Terutama saat mencari waktu luang (ini juga karena males..he..). Bagiku, kalau hanya menulis tidak butuh yang namanya bakat atau keterampilan (kalau sekedar menulis lho..), kecuali untuk menjadi penulis profesional. Kalau untuk menjadi penulis profesional memang butuh banyak latihan dan kerja keras. Selain itu perlu juga banyak membaca untuk mempelajari berbagai style setiap penulis lain, terus.., trus.. pokoknya banyak dech saratnya. Intinya.., Untuk inti dan kesimpulan silahkan tuliskan sendiri karena seperti yang saya bilang, saya lagi tidak tahu kesimpulan apa yang mesti saya tulis dan apa inti dari tulisan saya ini. he.. he..

Sekali lagi tidak perlu punya ide besar untuk menulis, terutama menulis di Blog. Yang penting apa yang ada di kepala ditulis saja. Nyambung atau tidak urusan belakangan. Tetapi perlu diperhatikan juga agar tidak mengganggu orang lain. Kalau cuma dibilang tulisannya tidak berguna, lewat saja. Soalnya, meski bagi dia tidak begitu berguna, mungkin saja bagi pembaca yang lain sangat bermanfaat. Misalnya saja pembaca yang kurang percaya diri bisa termotivasi dengan membaca tulisan yang jelek ini. Saat ia mulai membaca dan menyadari bahwa tulisan ini buruk, akan terlintas di kepala orang orang tersebut, “Wuih.., dengan tulisan kayak gini aja ia berani mempublikasikannya. Mestinya saya lebih berani dari dia”. Tuh..kan!, tulisan jelek saya berguna bagi sebagian kecil orang. Kecil banget, sampai tidak kelihatan atau bisa dibilang tidak ada, ha..ha..

Jadi bila tulisan kita buruk, jangan berkecil hati kemudian tidak mau menulis lagi. Pengguna internet kan tidak cuma sepuluh dua puluh orang saja. Katakan saja seluruh pembaca mengatakan kalau tulisan ini tidak berguna. Setidaknya tulisan itu tetap berguna sebagai latihan. Tidak ada penulis besar yang karyanya langsung jadi best seller kan!?.

Kalau misalnya tidak tahu apa yang harus ditulis, itu masalah gampang. Anda tinggal nyalakan komputer, jalankan OpenOffice dan mulai menekan-nekan keyboard. Mudahnya, tuliskan saja:

“saya lagi bingung, tidak tahu apa yang mesti saya tulis di blog ini. Kucoba untuk berpikir dan terus berpikir, tapi yang namanya ide cemerlang itu tidak kunjung muncul di hadapanku. Sudah berkali-kali mencoba minta pendapat teman, tapi tak satupun menanggapi. Malah mereka juga bilang tidak punya ide, ada juga yang menjawab kalau ia tidak tahu mau ngapain. Luntang-lantung tidak jelas apa yang dikerjakan.

Apa mungkin karena kepalaku yang kecil penuh dengan rambut ikal yang gondrong sebagai penyebabnya? Rambutku yang tidak kutata dengan rapi dengan bebas mencaplok setiap daerah yang bisa dihuni hingga tidak ada lagi ruang untuk bernafas bagi ide-ide segar yang akan muncul disana. Bagaimana kalau kupotong saja rambut ini biar kepalaku jadi ringan. Atau dibotakin saja sekalian biar ide-ide itu kerasan menetap di kepala. Kalau mereka betah, mungkin mereka akan berkembang biak sehingga tidak susah lagi bagiku untuk memanen satu persatu ide yang muncul. Bila kelak ide-ide itu tumbuh subur, saya bisa menuangkannya dalam tulisan agar setiap orang bisa menikmati. Akan kupilih ide-ide yang sudah matang dan kubiarkan yang baru tumbuh agar kelak ia lebih matang. Bila ide yang sudah matang telah habis, yang mentah pun kan kupetik, dan dengan sedikit bumbu pasti lebih menggiurkan. Lihat saja tuh sate kambing lebih enak yang kambing muda.

Andaikan saja suatu saat kepalaku sudah tidak bisa menampung ide-ide yang beranak-pinak dan berkembang dengan liar, akan kupindahkan sebagian otakku ke dengkul (ups..). Selain memberi suasana baru bagi ide-ide baru, pindahnya otakku bisa memberi keberuntungan lain. Saya tidak akan kena kanker di kepala, atau andaikan saja suatu saat saya mengalami kecelakaan yang begitu parah hingga kepalaku terbelah, aku masih bisa selamat. Kan sudah pindah (hehe..)”.

Tuh.., bisa kan aku menulis. Jadi jangan banyak alasan untuk tidak menulis. Sejak kecil dikampanyekan untuk rajin membaca. Masak sekarang juga rajin membaca. Tidak berkembang tuh namanya. Mestinya kita sudah selangkah lebih maju dengan rajin menulis. Kalo tetap tidak bisa menulis, tuliskan saja yang ada disekeliling kita, apa yang kita lihat, kita rasakan, atau yang sedang kita lakukan, bahkan tuliskan saja kalau anda sedang menulis.

Ayoo… Migrasikan Sistem Kita

Migrasi windows ke PLBOS tidaklah sesulit yang kita bayangkan, karena biasanya dalam sebuah perusahaan kelas menengah keatas, karyawan perusahaan tersebut hanya berhadapan dengan satu atau dua buah aplikasi saja. Seperti aplikasi office yang paling banyak di gunakan, dan beberapa aplikasi spesifik seperti software akuntansi dan keuangan yang hanya di gunakan oleh orang-orang yang berada di devisi accounting, atau aplikasi untuk membuat gambar tehnik, editing foto, dan aplikasi-aplikasi spesifik lainnya yang hanya di gunakan oleh sebagian kecil karyawan.

Solusi terbaik untuk migrasi sistem ke PLBOS bisa dilakukan dengan bertahap untuk menghindari menurunnya produktifitas karyawan dan disertai dengan support yang benar-benar berkualitas. Support dengan kualitas tinggi bisa saja berarti biaya yang tinggi bagi penyedia layanan migrasi, tetapi bukankah model bisnis open source berfokus pada layanan? Layanan disini bisa berupa training, penyediaan buku-buku panduan penggunaan program, layanan 24 jam non stop, dan layanan lainnya. Yang saya tekankan untuk layanan tidak terfokus pada maintenance sistem atau penanganan pada sistem yang tidak stabil, virus, worm dan lainnya (meskipun masalah ini bisa saja terjadi). Namun lebih difokuskan untuk melayani end user. Misalnya bagi pengguna biasa bisa saja ia kebingungan bagaimana cara memberi garis bawah (underline) pada openoffice, dan kita mestinya dengan senang hati menerima keluhan baik melaui telepon, chat atau lainnya mengenai masalah sepele tadi dan dengan senag hati pula mengajari end user tersebut cara memberi underline pada aplikasi office, baik dengan VNC atau bahkan mendatanginya bila mungkin. Support yang semacam ini sangat jarang kita temui sehingga memiliki nilai jual. Untuk memberikan support semacam ini tentu saja perusahaan penyedia layanan harus memiliki SDM yang tahan banting secara emosional disamping kemamapuan teknis tentunya. Jadi sekali lagi yang paling penting adalah membantu sekecil apapun masalah yang dihadapi oleh end user.

Warnetnya yang aneh apa akunya ya?? he3x

Sekarang ini aku lagi berada disebuah warnet di sebelah timur kampus Atmajaya yang terletak di kawasan mrican Demangan yogyakarta. Jam di desktop yang aku pakai menunjukkan pukul 13:57. aku berada di kabin no 09 di pojok sebelah barat. persis didepanku terdapat kulkas (pendingin) minuman yang sengaja di pajang di situ karena letaknya yang strategis. Saya bilang strategis karena kulkas tesebut dapat di lihat dari berbagai arah di dalam warnet tersebut. Tentu saja orang yang hendak membeli minuman dapat dengan mudah menjangkau tempat tersebut.

Saya sendiri baru dua kali berada disini. Keberadaanku hanya sekedar coba-coba untuk merasakan warnet-warnet yang banyak bermunculan di yogya. kesan pertama saat masuk dan menerima nomor kabin saya agak kaget karena kartu kabin yang dikasihkan ke aku berhiaskan pinguin. “wah kayaknya bakal jadi langganan nich kalo kecepatan aksesnya juga memuaskan. soal harga bukan masalah” pikirku waktu itu. tapi kegembiraan itu hilang setelah saya lihat komputernya pake windows. setelah rasa kaget udah hilang kuperhatikan ternyata ada tulisan LEGOS yang cukup besar terpampang di atas pintu masuk menuju warnet. mungkin cukup besar untuk dilihat dari jalan yang terbentang diwarnet tersebut “lumayan windowsnya resmi”.

Satu jam sudah saya duduk berselancra ria. Tiba-tiba saya membutuhkan Acrobat Reader untuk membuka file berformat PDF. Eit.., ternyata program yang kubutuhkan tidak ada. setelah menghubungi Operator, saya diminta menunggu sebentar untuk diinstall di komputer yang sedang kupake. nunggu satu menit.. dua menit.. lima menit.., “mas pindah komputer saja ya” kata operator memberikan opsi lain namun dengan nada memaksa. ya kecewa lagi nich. Program pembaca file PDF kan urgent, seperti halnya aplikasi office.

Kejadian hari ini lebih unik lagi. unik karena membuat aku takjub meski sedikit kecewa. Awalnya saya pesan tempat untuk surfing. setelah dapat kartu bernomer 09 dengan hiasan pnguin gemuk nan cantik, saya menuju komputer no sembilan. eit.. kulihat flasdisk masih tertancap di sana. terdengar suara hati mulai berperang. masing-masing mencoba untu mempengaruhi yang lain.

“Ambil saja terus pergi!” sisi gelapku memulai pertengkaran.

“jangan! berdosa” si putih melawan dengan sengit. “ingat tuhan, jangan jadi pencuri”

“halah…! biasa bajak software aja, sudah jutan rupiah yang kau embat” yang berwajah kelam mencoba melobi, “Sok alim lo..”.

Pertempuran berlangsungit sengit, bila semua perkataan dikeluarkan melalui mulut manusia, mungkin bisa lebih dari seperempat jam. tapi namanya gejolak hati, semua terjadi begitu cepat. Barangkali suara-suara hati itu hidup dalam dimensi yang berbeda hingga terasa begitu cepat bila dirasakan dalam dimensi manusia.

Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi operator warnet. saya tidak menyerahkan flashdisk tadi ke operator. Ia kalau yang punya flasdisk datang dan operator memberikan flashdisk tadi ke yang punya, kalo tidak? atau bisa aja ia pura-pura gak tau kan rugi. harganya sih bukan seberapa, tapi tetep aja ada rasa gak enak. Ahirnya dengan berbagai pertimbangan flashdisknya aku bawa sendiri sambil berharap yang punya tidak pernah datang he..he.., tidak lupa aku tinggalkan alamat emailku. Eh.. operatornya malah marah-marah. “Kalo mau flashdisknya ditinggal. kalo mau diambil mending tadi gak usah bilang, langsung aja bawa pulang, mudahkan!?” katanya sewot. “tidak usah pake alamat email segala, udah gak jaman pake alamat email”

aku tetap aja pada pendirianku untuk membawa sendiri flashdisk tersebut. berbahayakan, coba kalau handphone!?. Aku sangat terkejut saat mendengar kata-kata yang dilontarkannya padaku. bayangkan email dibilang sudah kuno. uh.. dasar. akhirnya kukasih no HP sambil berpikir, “orang jaman batu kali yang bilang email sudah kuno”.

itu aja yang paling kusayangkan dari kejadian tadi. rasanya kok tidak rela kalo komunikasi lewat email dibilang kuno. kalau semprotan yang lain bisa aku singkirkan dari otakku saat it juga. tapi email!?, ah.. operator warnet lo.. yang bilang, bukan penjual gorengan di warung-warung. Operator yang setiap hari bergelimang dengan dunia internet. Barang kali suatu hari ia akan bilang kepada setiap pengunjung warnetnya kalau browsing itu kuno. yo wis.

terakhir, sambil menulis di blog ini aku sadar kalo operatornya mungkin hanya bisa mengoperasikan billing warnet yang setiap harinya ia plototin, tidak yang lain. Soalnya aku berkomunikasi dengan dia lewat media chat yang disediakan oleh billing client yang tersedia disetiap komputer. saya tinggal mengklik menu “send message to server” dan menuliskan apa yang ingin kusampaikan pada operator. tapi operatornya selalu menjawab dengan cara mendatangi komputer yang aku pake. gile gak tuh? dua tiga kali kayaknya ia mesti menuju ke bilik komputer yang aku pake hanya untuk menjawap pesan yang aku sampikan. ha..ha.. jangan-jangan kelak bukan SMS lagi yang populer, tapi sudah beralih pada LMS (Live Message Service) ha..ha..ha…