Mengertilah! Kita Mesti Mengerti Orang Lain.

Kebanyakakan dari kita berharap agar kita bisa di mengerti oleh orang lain. Komposisi kelompok ini jauh lebih mendominasi daripada sekelompok orang yang berusaha mengerti orang lain. Hal semacam ini tampaknya sudah lumrah dalam kehidupan manusia karena memang seperti inilah fitrah manusia. Mungkin karena hal inilah banyak pepatah, kata mutiara, nasehat-nasehat orang tua dan yang semisalnya mengatakan, “bila ingin hidup harmonis dan bahagia mesti ada saling pengertian antara kedua belah pihak”. Intinya bukan lagi mempertanyakan kenapa kamu tidak bisa mengerti aku karena hal ini menjadi rancu bila dihadapkan dengan pertanyaan, “siapakah yang harus mengerti? aku yang harus mengerti kamu, atau kamu mesti mengerti aku”. Idealnya sih sama-sama mengerti. Kamu mengerti aku, dan aku mengerti kamu. namun pada kenyataannya, kelompok yang mencoba saling pengerti ini jumlahnya jauh daripada orang-orang yang memaksakan egonya, dan dengan tanpa rasa bersalah berharapa orang lain mengerti tanpa peduli kalau orang lain juga layak untuk dipahami.

Kenyataan bahwa manusia ingin dimengerti sangatlah wajar. Menempatkan harapan-harapan kita untuk bisa dimengerti orang lain di pundak kawan-kawan kita, pasangan hidup, atau orang-orang dewasa lainnya bukan suatu kesalahan. Namun banyak juga yang menaruh harapan ini jauh diluar akal sehat. Bayangkan saja bila ada orang tua yang mengharapkan pengertian anak-anaknya yang usianya kurang dari dua belas tahun. Ia berharap anak-anaknya dapat memahami susahnya hidup yang ia jalani misalnya. Atau seorang anak yang telah dewasa secara umum berharap pengertian orang tuanya yang telah jompo dan begitu menginginkan perhatian lebih. Tentu saja bila keadaan ini dipaksakan akan banyak menimbulkan gejolak dalam kehidupan emosional kita. Kita mungkin bisa melihat anak-anak kita tampak begitu paham dengan apa yang kita harapkan. Tetapi apakah memang demikian. Bisa jadi mereka berbuat seperti itu bukan karena ia mengerti, melainkan karena ia tidak punya kuasa atas arogansi kita dalam memaksakan keinginan.

Semua itu hanyalah pendapat pribadi saya yang mencoba merenungi kenyataan hidup (wuih sok jadi filsuf nich..he..3x). Saya sendiri belum memiliki seorang anak ataupun orang tua Jompo, jadi bisa bicara banyak tentang idealisme ini. Entah kelak, bila saya mengalami sendiri masalah ini, mungkin saya bisa mengerti mengapa kita begitu berharap akan pengertian anak-anak dan orang tua kita. Pastinya saya selalu berdo’a agar kelak saya masih bisa ingat akan tulisan ini bila kenyataan itu datang menyapa jalan hidup saya. tentu saja saya juga berdo’a agar tidak salah mengerti akan meraka dan orang-orang lain yang menghiasi hidup saya. Karena saya tahu, salah mengerti tidak jauh berbeda dengan tidak mengerti 🙂 .

Iklan

Dua Aliran Dalam Memperkenalkan Linux

Setelah belajar linux dari beberapa referensi, saya bisa simpulkan bahwa terdapat dua aliran dalam mempelajari linux bagi pemula. Buku-buku yang beredar juga tidak terlepas dari kedua aliran ini, baik secara sadar atau tidak. Kedua aliran ini berbicara bagaimana memulai belajar linux bagi pemula. Sedangkan bagi pengguna advance belum banyak dampak yang saya perhatikan dari keberadaan dua aliran ini. Namun bisa saja awal ia mengenal linux mempengaruhi pandangan-pandangannya akan linux dikemudian hari. bisa jadi pula pertama kali berkenalan dengan linux dijadikan kebiasaan hingga kebabak berikutnya.

Aliran pertama menyarankan belajar linux dimulai dari “hitam putih”. Maksud hitam putih disini adalah belajar linux dari command line atau berbasis text. Banyak kelebihan yang diberikan oleh aliran ini. Meski kurang familier di mata pemula, bila ditekuni akan memberikan nuansa tersendiri. Bekerja lebih cepat, dan tidak bergantung pada distro tertentu, bahkan lebih mudah bila ingin berpindah pada unix clone lainnya, dan masih banyak kelebihan-kelebihan lain. Namun aliran ini membuat para pemula menjadi jenuh dan membosankan. banyak orang yang belajar mengikuti aliran ini berhenti ditengah jalan karena belum merasakan manfaatnya.

Aliran kedua memulai belajar linux dengan warna. Artinya para pemula dalam linux diperkenalkan dengan aplikasi dan konfigurasi secara grafis terlebih dahulu, baru kemudian secara perlahan diperkenalkan dengan command line atau berbasis text. Melalui pendekatan yang satu ini membuat image linux tidak begitu menyeramkan dan mulai menuai banyak penggemar. Kemudahan yang diberikan hanya dengan klik di sana-sini membuat orang tidak enggan lagi bertemu dengan si pinguin. Apalagi tampilan desktop linux jauh lebih menarik dari pada sistem operasi yang cukup popular. Namun bagi beberapa pengguna, pendekatan yang kedua ini bisa dikatakan keluar dari “khittah” linux itu sendiri, membuat ketergantungan terhadap distro tertentu, dan konfigurasi yang dihasilkan kurang powerfull.

Munculnya dua pendekatan yang tampak berbeda ini banyak dipengaruhi oleh rentang waktu dan persaingan antar distro demi menghasilkan distro mudah digunakan dan juga menawan. Aliran yang pertama muncul terlebih dahulu. Orang-orang yang mengenal linux generasi awal atau mereka yang mulai dengan unix biasanya menggunakan aliran ini. Hal ini dikarenakan interface yang menawan belum berkembang dengan begitu pesat, dan konfigurasi harus dilakukan dengan mengedit file-file text secara langsung. Selain itu, aplikasi-aplikasi berbasis text sudah cukup memenuhi kebutuhan. Sedangkan aliran yang kedua muncul belakangan setelah tampilan dan konfigurasi secara grafis bermunculan. Para pemula yang mengenal linux diatas tahun dua ribu, biasanya belajar dengan pendekatan ini. Tetapi seperti yang saya singgung sebelumnya kedua pendekatan ini lebih banyak berlaku bagi pemula dan bagaimana ia memulai belajar linux. Sedangkan bagi pengguna tingkat lanjut, mau tidak mau ia harus belajar banyak tentang shell dan segala yang berbau text. Setidaknya hingga saat ini dan beberapa tahun yang akan datang selama konfigurasi menggunakan aplikasi grafis masih dikatakan kurang powerfull. Bagi anda yang pemula silahkan saja pilih sesuai dengan yang anda inginkan. Belajar dari yang mudah-mudah terlebih dahulu baru ditingkatkan ke pelajaran yang lebih sulit, atau memulai dengan bersusah-susah dahulu bersenang-senag kemudian. Yang pasti belajar linux itu sendiri adalah suatu tantangan.

Mengertilah! Kalau Kita Bisa Tidak Mengerti Orang Lain

Mungkin jalan hidup seseorang memang berbeda-beda. Setiap orang memiliki hak sendiri untuk menentukan apa yang akan ia perbuat. sebagian orang berpendapat bahwa individu itu sendiri yang menentukan seperti apa masa depannya. sebagian lainnya percaya bahwa manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan. tapi bukankan Allah tidak akan merubah nasib seseorang hingga ia sendiri berusaha secara maksimal untuk merubah nasibnya? jadi secara ekstrim bisa disimpulkan bahwa 90% masa depan kita bisa kita tentukan sendiri.

meski setiap dari kita berhak secara penuh, bukan berarti tidak ada peran orang lain yang mempengaruhi jalan hidup kita. ada banyak faktor yang juga sangat berpengaruh. keluarga, teman, dan lingkungan adalah faktor-faktor yang paling banyak mempengaruhi hidup kita baik. Kadang faktor-faktor tersebut kita sadari pengaruhnya terhadap diri kita, kadang juga kita tidak merasa kalau kita telah dipengaruhi. Tapi bila kita mau, kita bisa memilih dan mencari jalan keluar agar apa yang kita jalani tidak bisa dipengaruhi oleh apapun meski itu sangat sulit dan cenderung tidak mungkin. tapi setidaknya kita bisa meminimalkan pengaruh dari faktor-faktor eksternal tersebut.

Dua paragraf di atas kutulis untuk mencoba memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sendiri yang saat ini sedang bersarang di kepalaku. pertanyaan itu bermula saat saya menanyakan kabar seorang sahabat yang entah bagaimana kabarnya saat ini. kabar yang saya terima membuat saya kaget dan gak habis pikir, kenapa ia mengambil jalan yang menurutku sulit untuk diterima oleh otakku sendiri. saat ini aku bertanya-tanya bagaimana bisa ia putuskan untuk menghentikan kuliahnya dan meneruskan di kota lain. bukan ambil S2, tapi masih S1 dengan jurusan yang sama. Di kampus yang lama, di Jogja, ia tinggal menunggu ujian pendadaran saja dan semuanya beres. Sedangkan bila transfer ke kampus lain tentu saja ia mesti mengambil beberapa mata kuliah sesuai dengan kurikulum di universitas yang baru. selain itu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit pula.

biasanya, jalan pikiran beberapa orang dapat kita mengerti meski tidak sesuai dengan pendapat kita. bahkan kita juga dapat mengerti mengapa seseorang memilih untuk melakukan sesuatu yang sangat tidak kita setujui bahkan kita tentang. tapi saat ini saya baru menyadari, kita sebagai manusia penuh dengan keterbatasan. Kita bisa saja tidak pernah mengerti apa yang dipikirkan orang lain. hal semacam inilah yang berpotensi menimbulkan konflik. ketidakmengertian (baca: kesalahpahaman) akan orang atau kelompok tertentu tanpa di barengi oleh keihlasan menerima perbedaan dapat membuat gejolak yang hebat.

Untuk menghilangkan ketidakmengertian akan orang lain diperlukan komunikasi. komunikasi merupakan wadah untuk bertukar pikiran dan saling menjelaskan seperti apa jalan pikiran masing-masing individu yang terlibat. hingga bila tidak ada satu pendapat yang sama, diharapkan semua orang dapat mengerti kenapa orang lain tidak sependapat dengan kita. bukankah benar bagi kita belum tentu benar bagi orang lain?

kelak suatu saat, bila saya punya kesempatan bertemu dengan sahabat saya yang satu ini, saya akan coba menanyakan kenapa ia melakukan hal tersebut. bila dengan penjelasannnya saya tidak bisa mengerti juga, setidaknya saya bisa sadar kalau jalan hidup kita berbeda-beda. benar bagi kita belum tentu benar bagi orang lain. Biarlah ia tentukan sendiri jalan hidupnya dan begitu pula denganku.