Dua Aliran Dalam Memperkenalkan Linux

Setelah belajar linux dari beberapa referensi, saya bisa simpulkan bahwa terdapat dua aliran dalam mempelajari linux bagi pemula. Buku-buku yang beredar juga tidak terlepas dari kedua aliran ini, baik secara sadar atau tidak. Kedua aliran ini berbicara bagaimana memulai belajar linux bagi pemula. Sedangkan bagi pengguna advance belum banyak dampak yang saya perhatikan dari keberadaan dua aliran ini. Namun bisa saja awal ia mengenal linux mempengaruhi pandangan-pandangannya akan linux dikemudian hari. bisa jadi pula pertama kali berkenalan dengan linux dijadikan kebiasaan hingga kebabak berikutnya.

Aliran pertama menyarankan belajar linux dimulai dari “hitam putih”. Maksud hitam putih disini adalah belajar linux dari command line atau berbasis text. Banyak kelebihan yang diberikan oleh aliran ini. Meski kurang familier di mata pemula, bila ditekuni akan memberikan nuansa tersendiri. Bekerja lebih cepat, dan tidak bergantung pada distro tertentu, bahkan lebih mudah bila ingin berpindah pada unix clone lainnya, dan masih banyak kelebihan-kelebihan lain. Namun aliran ini membuat para pemula menjadi jenuh dan membosankan. banyak orang yang belajar mengikuti aliran ini berhenti ditengah jalan karena belum merasakan manfaatnya.

Aliran kedua memulai belajar linux dengan warna. Artinya para pemula dalam linux diperkenalkan dengan aplikasi dan konfigurasi secara grafis terlebih dahulu, baru kemudian secara perlahan diperkenalkan dengan command line atau berbasis text. Melalui pendekatan yang satu ini membuat image linux tidak begitu menyeramkan dan mulai menuai banyak penggemar. Kemudahan yang diberikan hanya dengan klik di sana-sini membuat orang tidak enggan lagi bertemu dengan si pinguin. Apalagi tampilan desktop linux jauh lebih menarik dari pada sistem operasi yang cukup popular. Namun bagi beberapa pengguna, pendekatan yang kedua ini bisa dikatakan keluar dari “khittah” linux itu sendiri, membuat ketergantungan terhadap distro tertentu, dan konfigurasi yang dihasilkan kurang powerfull.

Munculnya dua pendekatan yang tampak berbeda ini banyak dipengaruhi oleh rentang waktu dan persaingan antar distro demi menghasilkan distro mudah digunakan dan juga menawan. Aliran yang pertama muncul terlebih dahulu. Orang-orang yang mengenal linux generasi awal atau mereka yang mulai dengan unix biasanya menggunakan aliran ini. Hal ini dikarenakan interface yang menawan belum berkembang dengan begitu pesat, dan konfigurasi harus dilakukan dengan mengedit file-file text secara langsung. Selain itu, aplikasi-aplikasi berbasis text sudah cukup memenuhi kebutuhan. Sedangkan aliran yang kedua muncul belakangan setelah tampilan dan konfigurasi secara grafis bermunculan. Para pemula yang mengenal linux diatas tahun dua ribu, biasanya belajar dengan pendekatan ini. Tetapi seperti yang saya singgung sebelumnya kedua pendekatan ini lebih banyak berlaku bagi pemula dan bagaimana ia memulai belajar linux. Sedangkan bagi pengguna tingkat lanjut, mau tidak mau ia harus belajar banyak tentang shell dan segala yang berbau text. Setidaknya hingga saat ini dan beberapa tahun yang akan datang selama konfigurasi menggunakan aplikasi grafis masih dikatakan kurang powerfull. Bagi anda yang pemula silahkan saja pilih sesuai dengan yang anda inginkan. Belajar dari yang mudah-mudah terlebih dahulu baru ditingkatkan ke pelajaran yang lebih sulit, atau memulai dengan bersusah-susah dahulu bersenang-senag kemudian. Yang pasti belajar linux itu sendiri adalah suatu tantangan.

2 thoughts on “Dua Aliran Dalam Memperkenalkan Linux

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s