Rambut Baruku

Rasanya selalu pengen ketawa kalo aku lagi ngaca. Melihat rambut baruku yang sudah bertahun-tahun tebal dan panjang, kini hilang begitu saja. Rasanya begitu aneh, angin yang lewat begitu terasa melintas disela-sela rambut, diatas telinga, dan di leher bagian belakang yang biasanya tertutup oleh rambut. Kepala ini juga terasa ringan, tanpa beban. Yah… semoga saja kepalaku kini lebih berisi ide-ide yang cemerlang daripada dipenuhi oleh rambut yang panjang, atau dengan ringan menerima perbedaan seringan yang kurasakan saat kepalaku tak berhiaskan mahkota. Bersamaan dengan sejuknya semilir angin yang lewat di sela-sela rambutku kuharap juga aku bisa sedingin itu dalam memaafkan setiap kesalahan.

Dulu saat masih kecil, sering sekali rambutku sependek ini. Saat-saat duduk di bangku Aliyah juga juga tidakpernah panjang. Namun karena masa itu sudah begitu lama terlewati, rasanya jadi berbeda. Dulu tidak begitu terasa bedanya karena memang belum pernah berambut gondrong, tapi setelah mencoba dengan sekian tahun lamanya memelihara rambut, kini saya bisa tertawa sendiri melihatnya. Gambarannya, bayangkan saja bertahun lamanya anda tidak pernah pulang kampung, pasti rasanya berbeda setelah sekian lama pergi, tiba-tiba anda berada di tanah kelahiran yang telah membesarkan anda bersama keluarga.

Virtualisasi, Belajar dan Bekerja

Banyak sekali software virtualisasi yang bisa kita gunakan. Mulai dari yang mahal sampai yang gratis dan bisa kita pelajari cara pembuatannya (baca: source code). Diantara software-software tersebut yang cukup terkenal adalah Vmware, qemu, virtualbox, dan lain sebagainya.

Tapi hingga saat ini saya belum mengalami secara langsung kalau mesin-mesin virtual ini bisa saya gunakan secara nyata selain untuk belajar. Tentu saja saya tahu sedikit banyak mengenai kelebihan-kelebihan penggunaan virtualisasi ini.

Saya menggunakan virtualisasi biasanya untuk belajar jaringan komputer atau mencoba distro baru atau mencoba aplikasi-aplikasi yang ada. Artinya memang saya belum begitu merasakan manfaatnya. Misalnya saja dengan virtualisasi kita bisa mencoba software-software baru yang tidak jelas asal-usulnya tanpa harus takut merusak sistem utama kita. Atau mencoba software-software beta version, melakukan debug program, dan mencicipi kernel baru, tetap saja saya tidak begitu kuatir sistem utama saya bermasalah. Saya tidak keberatan kalau terpaksa mereboot ulang komputer saya atau bahkan harus menginstall ulang. Karena dengan begitu saya bisa istirahat sambil memikirkan masalahnya kenapa.

Tentu saja semua itu bisa terjadi karena komputer yang saya pake untuk belajar, memang benar-benar untuk belajar. Bukan komputer yang digunakan untuk bekerja. Lain ceritanya bila saya menggunakan komputer untuk kebutuhan kritis dan gak boleh ada gangguan apalagi mesti diinstall ulang. Tapi bagi saya kok rasanya belajar dan bekerja tidak begitu berbeda. Yah.. mungkin karena pekerjaan saya adalah belajar. Sesuatu yang membosankan bagi orang lain barang kali.

Banyaklah Membaca dan Mulai Menulis

Kampanye gemar membaca sudah lama tidak saya dengar. Hingga akhirnya saya tahu Tantowi Yahya sebagai duta baca. Artinya akhir-akhir ini, gemar membaca mulai dikampanyakan kembali seperti waktu saya melalui masa kecil yang indah.

Ternyata sama saja, tidak banyak berubah dari kebiasaan membaca orang indonesia ini. Padahal kurasa sudah bukan saatnya lagi mengkampanyekan gemar membaca. Kita sudah terlalu jauh berjalan ditempat. Pantas saja tidak begitu banyak perubahan yang terjadi.

Sejak saya kecil, kampanye gemar membaca sudah ada, dan kini setelah dua puluh tahun kemudian tetap saja gemar membaca yang diusung. Bukankah sudah selayaknya kampanye tersebut dialihkan menjadi gemar menulis. Atau setidaknya gemar membaca dan menulis. Ya.. banyak membaca dan mulai menulis. Karena ternyata membaca saja tidak cukup. Perlu cara untuk mengungkapkan ide, pemikiran, pendapat, dan lain-lain.

Berbicara di depan banyak orang memang merupakan sebuah cara, namun kayaknya kurang efektif bagi semua orang. Tapi dengan menulis, banyak orang yang bisa membaca apa yang kita pikirkan. Selain itu dengan menulis kita bisa menyimpan lebih lama ide-ide kita.

Saya sendiri membuat blog ini sebagai sarana untuk terus belajar mengungkapkan apa yang ada dalam benak saya dan apa yang terasa dihati. Mencoba mengungkapkan secara lebih sistemastis dengan cara menuliskannya. Memang tulisannya belum bagus. Baik dari segi isi maupun cara menuliskannya, mungkin jauh dari apa yang kita sebut dengan layak. Tapi setidaknya ini sebagai awal untuk sesuatu yang lebih dikemudian hari. Selain itu saya baru menyadari betapa pentingnya menulis. Tidak hanya menulis untuk orang lain, tapi juga menulis demi diri saya sendiri.

Yah.. karena baru memulai, menulis itu kadang membosankan dan amat malas untuk memulai. Ya.. tidak jauh-jauh dari hal-hal yang baru kita mulai, rasanya cukup berat. Tetapi setelah semua berjalan, rasanya pasti menyenangkan.

Sekolah Bertaraf Internasional

Melihat semaraknya sekolah bertaraf international, kayaknya dunia pendidikan kita makin yahud nich. Saya sendiri bukan pakar pendidikan, jadi komentar saya mungkin bisa dianggap angin lalu. Saya takut kalau berbicara seolah-oleh mumpuni di bidang tersebut, bisa menyesatkan masyarakat. telah banyak yang tersesat dikarenakan komentar-komentar yang tidak jelas, jadi gak perlu bagi saya dengan sadar memperparah keadaan.

Beberapa media banyak mengupas tentang sekolah yang satu ini, tapi banyak yang saya baca menunjukkan nada pesisimis terhadap kualiatas yang di berikan. Banyak yang bilang kalau semua itu hanya untuk meningkatkan harga jual. Banyak yang mengaku bertaraf internasional hanya karena sekolah tersebut menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar di kelas. Sedangkan sisi yang lain seperti kurikulum, riset, dll masih diabaikan. Tentu saja banyak juga yang benar-benar bertaraf internasional dari segi kualitas, tapi yang pasti, baik sekolah yang memang punya fisi global maupun yang hanya sekedar untuk menggaet siswa, tarifnya sangat mahal. tampaknya layak juga sekolah-sekolah bertaf internasional diplesetkan dengan nama “Sekolah Bertarif Internasional”.