Ide Yang Hilang

Sebenarnya banyak yang ingin ku ceritakan di blog ini. Ya cerita tentang banyak hal termasuk kerjaan saya minggu ini. Banyak pelajaran dan hal-hal baru yang kudapatkan dalam minggu ini, terutama tentang pekerjaan saya . Tetapi ide-ide yang  telah banyak nongol dikepala keburu kabur karena  tidak sempat dituangkan dalam tulisan di blog ini. Habis kerjaannya selalu minta waktu lebih dari jadwal yang telah kusediakan. Terpaksa ngeblognya harus mengalah.

Hari ini, waktu luangku untuk ngeblog kuisi dengan menuangkan keluh kesah yang timbul karena ide-ide yang hilang dari jangkauan. Sebenarnya hanya sebagai alasan saja karena bila bener-benar menyesal dengan ide yang hilang, pasti dari dulu kusempatkan buat nulis meski di secarik kertas.

Ide-ide itu muncul sewaktu-waktu dan bila memang itu penting, sesempat mungkin pasti kusempatkan menuliskannya walau hanya point-pointnya saja. ok! itu dulu untuk hari ini. Semoga besok tidak pernah lupa dan tidak juga malas menuliskannya. Yah… meski itu hanya sebuah angan, tapi aku kan tetap mencoba tuk jadikan my dream become true.

Teknologi dan Kepekaan Sosial

Internet bagai pedang bermata dua, satu sisi bisa begitu bermanfaat namun disisi lainnya bisa bermasalah. Tidak begitu berbeda dengan internet, teknologi secara umum bisa memberi manfaat yang begitu besar dan bisa memberi madhorat bagi penggunanya. Oleh karena itu tidak ada yang mengharamkan teknologi penyiaran seperti televisi atau pun radio. Tidak ada pula ulama yang mengharamkan internet atau nuklir. Semua itu dikembalikan kepada manusia sebagai pengguna teknologi. Dan sebenarnya hitam dan putihnya teknologi bukanlah hal baru di dunia ini, karena secara fitrah dunia ini memiliki dua sisi, gelap dan terang. Bagai sebuah rumah, bila ia digunakan untuk perbuatan yang tercela maka rumah tersebut tidak mendatangkan manfaat dan begitu pula sebaliknya.

Disamping dua sisi teknologi, terdapat sisi yang kurang disadari oleh sebagian besar umat ini. Meski sebenarnya sisi ini tidak terlepas dari hitam dan putih yang saya utarakan di depan. Hanya saja sisi ini agak kabur dan tidak tersekat secara jelas. Sisi ini banyak berbicara dalam esensi dari sebagian ibadah kita yang dipermudah oleh keberadaan teknologi, khususnya bentuk ibadah yang sosial oriented. Ibadah-ibadah sosial seperti berbagai layanan infaq dan sadaqah bahkan zakat yang bisa dengan mudah dibayar melalui mesin ATM. Teknologi benar-benar mumbuat hal semacam ini begitu mudah dan praktis, namun esensi dari sadaqoh tidak didapatkan melalui mesin ATM.

Tujuan utama yang diajarkan oleh rasulullah adalah kedekatan kita dengan para dhu’afa, ikut merasakan kepedihan yang mereka alami, dan agar membekas dalam sanubari rasa cinta dan persaudaraan yang senantiasa terjalun penuh mesra. Tapi bila para muzakki dan orang-orang yang berhak menerimanya tidak pernah saling bertemu apalagi bertegur sapa dari arah manakah tautan hati akan terjalin. Bagaimana orang-orang kaya bisa merasakan pedihnya kelaparan bila mereka hanya duduk di depan komputer sambil chating dan browsing, kemudian hanya dengan klik sana klik sini infaq dan sadaqah telah sampai pada rekening lembaga amil zakat.

Bukan saya alergi terhadap teknologi. Hanya saja ingin mengingatkan kepada diri saya bahwa memberi saja tidaklah cukup. Sesekali perlulah kita melihat dengan kepala mata sendiri serta serta bersapa mesra dengan mereka agar persaudaraan yang kita jalin berdasarkan ukhuwah kian erat. Amin..3x.

Keep Thinking Guys!

Hal kecil namun begitu bermakna yang terjadi disekeliling kita kadang tidak kita sadari. Fenomena semacam ini seringkali dikiaskan seperti kerikil, jarang sekali orang yang peduli akan keberadaannya. Perumpamaan ini biasanya dikaitkan dengan cobaan yang dihadapi manusia, karena terlalu seringnya seorang manusia terjatuh karena masalah kecil yang dihadapinya. Jarang sekali ada kaki yang tersandung bongkahan batu karena batunya yang terlalu besar.

Hal-hal kecil yang saya maksud di atas tidak terbatas hanya pada masalah-masalah yang sering kali menjadi batu sandungan dalam menjalani hidup ini. Tetapi segala hal di sekitar kita yang tidak pernah kita perhatikan keberadaanya, baik itu berpengaruh pada diri kita ataupun tidak.

Seperti halnya kecanggihan teknologi yang telah membuat kita tidak bisa hidup tanpanya. Pernahkah kita bayangkan seandainya kita hidup tanpa listrik seperti halnya nenek-nenek kita dahulu, atau tanpa alat transportasi yang setiap harinya “berseliweran” di jalan raya bahkan kadang begitu menjengkelkan.

Mungkin sebagian dari kita akan menyangkal, bahwa hidup tanpa listrik mustahil terjadi, jadi buat apa kita mengandai-andai kalau listrik tiba-tiba sirna dari atas bumi ini. Bagi kebanyakan orang mungkin ada benarnya juga, namun bagi orang yang mencoba peduli, berpikir kearah tersebut merupakan langkah awal untuk memulai ide-ide baru. Listrik kita saat ini tergantung pada minyak yang harganya tidak menentu akhir-akhir ini, siapa yang tahu kelak akan ditemukan alternatif lain sebagai pembangkit listrik dari kepala-kepala pemikir kita atau dari ide-ide sederhana yang dengan gigih dicoba untuk diimplemntasikan meski semua oarang berkata itu gila. Bukankah penemuan pesawat terbang berawal dari keinginan pembuatnya untuk terbang bagaikan burung? sesuatu keinginan yang dianggap gila dikala itu. Ah.. tentu saja Muhammad adalah contoh yang baik. Semua orang pasti sudah tahu betapa ia dianggap sebagai orang gila waktu itu.