Sebuah Solusi Menggunakan Thin Client

Beberapa waktu lalu saya coba mendiskusikan kebutuhan pokok untuk membangun sebuah warnet di kota padang. Kebutuhan pokok dalam membangun sebuah warnet tentusaja sejumlah perangkat komputer siap pakai. memang kebutuhan lain seperti sewa tempat dan karyawan juga menjadi pertimbangan, hanya saja saat itu kita fokus pada pengadaan komputernya terlebih dahulu.

Ada beberapa solusi yang coba saya pertimbangkan bersama om saya waktu itu. Penggunaan perangkat murah meriah dengan Pentium III dan perangkat lain dengan kondisi B3 (Barang Bekas Berkualitas) adalah solusi murah untuk memulai bisnis ini. Solusi lain yang coba kami pertimbangkan adalah penggunaan LCD sebagai ganti monitor CRT. Memang LCD Investasi awalnya cukup mahal, namun dapat mengurangi konsumsi listrik secara signifikan sehingga bisa mengurangi biaya operasional nantinya.

solusi lain yang hinggap dibenak kami adalah pemanfaatan Thin Client atau Dump Terminal. Model ini diimplementasikan dengan menyiapkan sebuah server yang memiliki resource yang cukup besar, sedangkan clientnya menggunakan Thin client yang banyak tersedia di pasaran. Untuk info lebih lanjut mengenai Thin Clien dapat di lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Thin_client.

Beberapa review yang saya baca mengenai consep thin client ini salah satu kelebihannya mampu mengurangi biaya investasi awal dibanding membeli seperangkat komputer untuk masing-masing client. Tetapi setelah dihitung-hitung sama om ku, ide saya ini tidak bisa diterima karena cost-nya hampir sama dengan beli komputer baru. Saat itu saya percaya aja karena ia ngitungnya di depan saya. Beberapa hari kemudian saya baru ingat kalau pengurangan cost yang di terjadi akibat penggunaan Thin Client disebabkan software yang kita beli. Jadi kalau kita menggunakan Thin Client, kita hanya perlu beli software untuk servernya saja, dan belinya cuma sekali dan lisensinya untuk satu buah komputer saja, yakni server tersebut. Tetapi kalau kita beli komputer biasa untuk masing-masing client, kita mesti beli lisensi software untuk masing-masing komputer. Kebayang gak tuch mahalnya🙂. Yah begini jadinya kalau sudah jadi kebiasaan pake software bajakan. Biaya pembelian software terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s