PKS Watch

Gak tau gimana ceritanya, tiba-tiba nyampe di sini. Yah baru pertama kali ini nyasar kesitu tapi tampaknya akan menambah deretan bookmark-ku jadi semakin panjang :). Melihat blog tersebut, saya jadi tahu kalau ternyata banyak juga yang sependapat dengan saya, mempertanyakan tentang banyak hal yang menurut saya tak pantas ada pada tubuh PKS. Tetapi saya tak mempublikasikannya karena minimnya info dan referensi yang saya. Dari pada saya bicara tanpa sumber yang jelas tho..? mending gak di tulis aja. Tapi sempat juga komment juga di sini :).

Meskipun tidak saya tulis, kadang juga kebawa obrolan bareng teman, saudara, ikhwah, dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Itupun hanya sekedar ikut nimbrung dan tak begitu banyak bicara. Tapi kalau di kampus, saya serius dalam mengkritik dan saya tahu betul apa yang saya kritik. Mungkin karena tipical saya yang kalau ngomong bersuara keras, layaknya kebanyakan orang madura, sehingga saya sempat merasa tersingkir dari komunitas-komunitas yang coba saya bangun  atau organisasi dakwah yang ingin saya terjuni semasa di kampus dulu. Apalagi yang mengkritik bukan tipe orang berjenggot dan tak bertampang ikhwan sedikitpun :).

Ah.. tapi hanya masa lalu, indah tuk dikenang, tapi tak ingin ku kembali. Hari ini mencoba tuk membangun masa depan, mendirikan puing-puing yang sempat runtuh hingga titik nadzir. Kembali menata hati, menjaga iman, menapaki jalan terjal menu kemenangan bersama harakah, bersama juga jama’ah.  Semua itu mesti dimulai dari diriku sendiri, mulai bangunkan diri dari tidur panjang yang selalu diliputi kemalasan.

Iklan

OOP Untuk Orang Lugu

Pendahuluan

Mungkin karena kapasitas saya yang memang butuh effort untuk mempelajari hal baru, sehingga butuh banyak referensi yang harus saya baca dalam memahami OOP. Dari banyak referensi yang saya punya, rata-rata mereka menjelaskan paradigm object layaknya object yang ada di dunia nyata. Secara teori sih benar, begitu pula dalam implementasinya. Hanya saja hal ini membingungkan bila dijelaskan kepada orang yang memiliki kemampuan biasa-biasa saja, atau setidaknya membingungkan bagi diri saya.

Dari buku yang pertama, saya langsung paham yang dimaksud OOP itu seperti apa. Begitu pula setiap contoh permisalan yang ada pada dunia nyata, hingga contoh-contoh yang ada pada buku yang ketiga dan keempat saya lewatkan karena bosan.

Masalah saya waktu itu adalah bagaimana menerapkan teori-teori yang ada dalam bentuk kode. Kalau hanya menggambar manusia, mobil, hewan, dan hal lain disekitar kita itu mudah dilakukan. Tapi mendesain sebuah object untuk membangun aplikasi benar-benar menguras tenaga. Memang tidak ada kata salah dalam mendesain object, tapi bila object ini dibuat asal-asalan, kelebihan reusable dalam sebuah object menjadi tidak begitu berarti.

Tulisan ini hanyalah salah satu catatan kecil saya tentang bagaimana saya belajar akan suatu hal dari cara pandang saya sendiri. Tulisan ini juga sebagai pengingat bagi saya agar tak pernah takut menjadi diri sendiri. My style, my live.

Apa itu OOP ?

Next time…

Maunya Programmer Itu…?

Saat iseng browsing , tak sengaja nyasar ke sini. Isi blognya sih tidak begitu menggambarkan apa yang tertulis dijudulnya. Tapi komentar yang datang menbuat judul tulisan di blog tadi menjadi begitu mudah di pahami.

Berdasarkan tulisan dan komentar yang ada di tulisan tersebut, bisa saya simpulkan bahwa banyak programmer lebih menyukai suasana kerja seperti rumah mereka sendiri daripada bekerja sebagai programmer kantoran.

Dalam bekerja, programmer itu kurang lebih butuh ruang privat, mungkin bukan berarti setiap programmer mesti dapat ruang sendiri-sendiri. Tapi setidaknya ada jarak antara programmer yang satu dengan yang lainnya. Mengetahui tentang yang satu ini saya jadi teringat kalo dulu ada yang usul agar meja-meja menghadap kearah pintu. Jadi kalau si Bos datang, ia tidak punya kesempatan ngintipin apa yang dilakukan oleh para programmer-nya di depan computer.

Selain itu, programmer saat ini jauh bertolak belakang dari pada programmer jaman dulu. Yang sekarang cenderung lebih gaul daripada programmer masa lalu yang terkenal cuek, pendiem,dll.

Meskipun cenderung gaul, dalam bekerja programmer lebih suka suasana gaya rumahan dari pada gaya kantoran. Tapi bukan berarti bekerja dirumah. Yang dimaksud rumahan, tidak harus berada di lingkungan perumahan atau di perkampungan/pemukiman penduduk. Ini cenderung pada suasana, bukan pada letak lokasi kerja. Suasana rumahan itu biasanya fleksible mau keluar masuk kantor, mau pulang jam sebelas malem atau jam tiga pagi tidak ada yang melarang atau bisa dilakukan tanpa banyak berurusan dengan security. Mudah mendapatkan makanan pada jam berapun karena biasanya, bila lagi serius, programmer suka lupa makan dan tahu-tahu sudah jam dua pagi. Yang penting dekat dengan warung atau warteg, biar mudah beli makan.

Pokoknya banyak dech yang membedakan programmer dengan pekerja kantoran lainnya. Baca aja sendiri di sini. Yang pasti programmer itu banyak maunya. Ah.., bukannya semua manusia banyak maunya. Jadi banyak maunya itu suatu hal yang wajar-wajar saja. Masalahnya mau tidak kita meredam kemauan-kemauan kita!?

Media Alternatif “Merebut” Programmer Baru

Pada dasarnya saya kurang tahu secara pasti kenapa kita sulit mendapatkan programmer baru. Tentu saja ketidaktahuan saya dikarenakan saya tidak terlibat secara langsung meski saya sendiri adalah programmer. Tulisan ini juga bukan karena saya sok bertanggung jawab dalam perekrutan karyawan atau ingin ikut campur dalam masalah perekrutan programmer baru. Tulisan ini tidak lebih hanya sekedar menceritakan berbagai media yang saya acu dalam mencari pekerjaan di tempo doeloe.

Mungkin ada benarnya profesi sebagai programmer merupakan momok bagi kebanyakan orang, bahkan bagi kebanyakan mahasiswa IT sendiri profesi ini mungkin bisa dibilang cukup menakutkan. Banyak teman kuliah saya jadi “alergi” dengan computer (baca: programming) setelah sekian lama bergelut dengan diktat kuliah yang sangat tebal, itupun kalau dibaca, biasanya juga bantalan kepala buat tidur. Baca lebih lanjut