Media Alternatif “Merebut” Programmer Baru

Pada dasarnya saya kurang tahu secara pasti kenapa kita sulit mendapatkan programmer baru. Tentu saja ketidaktahuan saya dikarenakan saya tidak terlibat secara langsung meski saya sendiri adalah programmer. Tulisan ini juga bukan karena saya sok bertanggung jawab dalam perekrutan karyawan atau ingin ikut campur dalam masalah perekrutan programmer baru. Tulisan ini tidak lebih hanya sekedar menceritakan berbagai media yang saya acu dalam mencari pekerjaan di tempo doeloe.

Mungkin ada benarnya profesi sebagai programmer merupakan momok bagi kebanyakan orang, bahkan bagi kebanyakan mahasiswa IT sendiri profesi ini mungkin bisa dibilang cukup menakutkan. Banyak teman kuliah saya jadi “alergi” dengan computer (baca: programming) setelah sekian lama bergelut dengan diktat kuliah yang sangat tebal, itupun kalau dibaca, biasanya juga bantalan kepala buat tidur.

Kesulitan mencari programmer atau tenaga IT sebenarnya bukan hanya masalah kita saja. Banyak keluhan serupa yang beredar disekitar mata dan telinga saya. Namun mesti kenyataannya seperti itu, janganlahlah kita berkecil. Ingat ada banyak jalan menuju Roma, dan juga ada ribuan mahasiswa IT yang menyandang gelar sarjana setiap tahun.

Dari sekian banyak mahasiswa IT yang baru lulus, Tentu saja dapat dipastikan ada sebagian kelompok yang memilih menjadi seorang programmer, meski mungkin kelompok ini merupakan minoritas diantara para pelaku IT yang lain. Katakan saja (meski ilustrasi ini absurd), dari 10.000 mahasiswa teknik informatika, 10% dari mereka memilih menjadi programmer, yakni 1000 orang. Kemudian jumlah perusahaan yang menyediakan lowongan kerja sebagai programmer sebanyak 2000 perusahaan. Disini kita akan bersaing dengan perusahaan lain untuk mendapatkan programmer sebanyak-banyaknya. Intinya ada peluang meski harus bersaing.

Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan daya saing perusahaan agar perusahaan kita menjadi pilihan pertama, atau setidaknya bukan pilihan terakhir.

Meningkatkan daya saing perusahaan dalam rangka merekrut karyawan baru bukan hal mudah. Banyak variable yang mempengaruhi. Tentu saja bila kita kita berhasil mendapatkan karyawan baru bukan berarti masalah telah usai. Ada lebih banyak variable yang mesti kita pertimbangkan agar sang programmer tidak hengkang dengan cepat.

Media komunikasi antara perusahaan dengan job seeker cukup beragam. Hingga saat ini media yang diyakini paling efektif adalah televisi. Namun media ini cukup mahal dan tentu saja bukan solusi ini yang akan saya anjurkan. Media yang kedua adalah internet. Di internet kita bisa gunakan beberapa layanan iklan online yang relative murah disbanding media lainnya. Selain itu kita bisa memposting melalui milis atau official web milik perusahaan. Sayangnya tingkat kepercayaan pencari kerja terhadap iklan lowongan yang melalui internet relative kecil. Hal ini disebabkan mudahnya memasang iklan melalu media ini. Bahkan bisa juga tanpa biaya. Kemudahan ini memberi efek terhadap peningkatan iklan-iklan yang berbau penipuan. Hal inilah yang membuat para job seeker selalu waspada. Meski pencari kerja melalui internet jauh melebih besar dari pada mereka yang membaca di Koran, tetap saja mereka akan menentukan top choice pada perusahaan-perusahaan yang sudah mereka kenal. Sedangkan perusahaan yang kedengarannya asing di telinga mereka akan mereka singkirkan hingga pilihan ke-27. Apalagi bila iklan lowongannya kurang meyakinkan atau hanya sebaris dua baris kata. Jadi hanya factor hoki saja yang akan meningkatkan posisi ke tangga yang lebih tinggi.

Selain melalui situs lowongan kerja, banyak pula yang menawarkan pekerjaan melalui miling-list atau forum komunitas. Sedikit sekali komentar yang saya dapatkan mengenai iklan-iklan di sini. Asumsi saya, orang memasang iklan di sini di karenakan targetnya pasarnya jelas. Misalnya lowker untuk IT, iklannya di milis IT. Namun iklan dimilis ini cenderung berbau kekeluargaan (meski tak tanpa sebagai keluarga yang harmonis) daripada profesionalisme. Dan itu terbukti karena saya sendiri dapat kerja melalui milis.

Media lainnya adalah media cetak. Prosedur pemasangan iklan di media cetak ini lebih rumit dari pada memasang iklan di internet dan tentu saja jauh lebih mahal. Semua pencari kerja tahu tentang hal ini. Mahalnya pemasangan iklan di koran merupakan jaminan bahwa perusahaan yang beriklan benar-benar membutuhkan karyawan. Meski tidak bisa menjamin 100% bebas penipuan. Saya sendiri cenderung lebih memilih media ini sebagai pilihan utama mencari kerja dan juga mereferensikan media ini kepada orang yang lagi bingung cari kerja. Media cetak favorit jatuh pada KR hari sabtu di Jogja dan Kompas sabtu untuk Ibu kota. Berbagai saran yang saya terima dalam memilah iklan-iklan yang ada adalah menacari di iklan kolom. Semakin besar iklannya, semakin di percaya namun semakin sulit pula untuk di gapai. Selain itu jangan pernah memilih iklan yang meminta di kirim ke PO.BOX. Dan yang terakhir carilah iklan yang punya official website kemudian cek website tersebut, seberapa sering content-nya di update. Kemudian baru apply melalui email.

Media yang cukup ampuh sebenarnya adalah media pertemanan. Yakni mencari pekerja lewat teman, saudara, tetangga, dll yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut. Media ini sedikit sekali factor penipuannya disbanding media lainnya, namun cenderung berbau nepotisme. Tapi media ini kurang efektive karena pasarnya sangat terbatas.

Job fair adalah pilihan lain untuk pencari pekerja. Factor penipuan juga cenderung sedikit Karena mahalnya berpartisipasi dalam job fair. Apalagi beberapa penyelenggara kadang mensyaratkan peserta job fair menunjukkan bukti-bukti resmi mengenai legalitas perusahaan tersebut. Sayangnya kadang event seperti ini di manfaatkan oleh penyelengga untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menarik bayaran yang cukup mahal bagi pengunjung job fair. Saya pribadi tidak menyarankan mengikuti job fair yang menarik bayaran bagi para pengunjungnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s