Esensi Menyerupai Suatu Kaum

Hari sudah mulai senja. Tidak sengaja pula saya mencoba melihat-lihat arsip email yang mungkin sudah berbulan-bulan tidak saya hapus (maklum kapasitas di Gmail cukup besar. Sekarang saja baru terpakai kurang lebih 10% doank). Tidak lama kemudian saya menemukan tulisan yang pernah saya posting di milisnya eramuslim@yahoogroups.com tertanggal 14 Juli 2006 jam 10:52 AM. Sedangkan arsip di milis tersebut bisa di ikuti melalui url berikut ini:
http://groups.yahoo.com/group/eramuslim/message/26065.

sebagai catatan, saya agak lupa apa yang menginspirasi saya untuk menulis tentang tasabbuh ini. Namun dari tulisan yang ada kayaknya saya mencoba mengkritisi perayaan 1 muharram.

Setelah saya baca ulang, saya jadi berpikir mending diposting di blog dech, lumayan…! Tinggal co-pas, selesai, dan selamat membaca..!


Barangsiapa meniru tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Tasabbuh tidak hanya berupa bentuk peniruan pada pakaian semata tapi jauh lebih mendalam kepada tingkah laku dan pola pikir umat. Apalagi di zaman sekarang yang penuh dengan Gozwatul fikr yang bisa saja dengan tanpa sadar kita mengikuti jalan mereka.

Seperti halnya kita terlalu konsen melarang memakai pakaian jin, meski hal ini tidak dapat disalahkan tapi bisa saja ini memang sengaja dibesarkan untuk menutupi permasalahan yang jauh lebih besar.

Kalau kita mau berpikir sedikit mengenai pakaian kita, siapakah yang lebih baik, mujahidin palestina dengan jinnya ataukah kita dengan jubah besar yang mungkin tanpa disadari diimport dari budaya cina. Kadang kita juga lupa kalau dilarangnya penggunaan garpu saat makan bukan sekedar karena garpu made in eropa tapi karena dengan garpu kita makan dengan tangan kiri.

Disisi lain, kita lupa kalau merakan hari kelahiran diawali dari eropa, natal merupakan perayaan akan kelahiran isa a.s. dan kita dengan cara yang berbeda merayakan maulid nabi.

Perayaan tanggal satu muharram meskipun diisi dengan ta’lim sebenarnya juga tidak lepas dari meniru kebiasaan perayaan tahun baru masehi karena jauh dimasa rasul hingga tabi’u at-tabi’in tidak pernah sekalipun merayakannya.

Sebagian dari kita mungkin beralasan kalau perayaan tersebut diisi dengan ta’lim, muhasabah, dan berbagai kebaikan didalamnya. Tapi apa itu penting, kalau disisi lain kita menghujat saudara-saudara kita yang tahlilan yang kita akui bahwa seluruh bacaan dalam tahlilan itu merupakan bentuk kebaikan. Atau cemooh kita akan perayaan valentine, “mencintai kok setahun sekali, dan knapa harus pada tanggal 14 februari”. Bagaimana kalau kita katakan pada diri kita kenapa taklimnya harus pada perayaan hari lahir muhammad dan kenapa muhasabahnya hanya pada satu muharram atau bahkan 1 januari, bukankah setiap hari kita harus koreksi diri”. Semua itu karena sebenarnya tujuan utama mereka adalah perayaan, kebaikan-kebaikan yang ada didalamnya hanyalah sebagi alasan pembenaran seperti halnya perkataan kafir Qurais ketika mereka berkata, “sesungguhnya berhala-berhala ini hanyalah sebagai perantara kami kepada Allah”. Demikianlah iblis menghiasi suatu kebodohan.

Selain karena tasabbuh, Penyebab terjadi hal-hal diatas karena merasa kurang atas apa yang diajarkan muhammad, kebodohan, dan anggapan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut indah dan baik. Padahal segala bentuk ibadah dilarang kecuali ada dalil yang membolehkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s