Sedikit Cerita Tentang Hati

Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah foto seorang sahabat di internet. Foto yang bagus sebenarnya, namun ketika saya konfirmasi kepada pemiliknya, ia merasa tidak pernah meng-upload-nya ke internet. Mungkin lupa ato tanpa sengaja foto-foto tersebut ter-upload ke account friendster.com dia.

Beberapa hari kemudian saat saya kembali mengunjungi account sahabat saya tadi, saya tidak menemukan kembali foto-foto yang dulu terpasang. hem.., mungkin sahabat saya sengaja menghapus foto-fotonya karena merasa tidak menguploadnya.

Pagi ini saya berselancar menuju facebook.com, dan tanpa sengaja pula menemukan foto-foto yang sebelumnya dihapus dari account freindster. tentu saja hal ini wajar-wajar saja mengingat begitu gemilangnya facebook di dunia maya. Saya pikir tidak sedikit orang yang beralih ke facebook setelah sekian lama menjadi pelanggan setia friendster.

Bukan migrasi dari frienster ke facebook yang saya soroti. Hanya saja sequence dari peristiwa meng-upload, menghapus, upload lagi, ntah kelak dihapus lagi mungkin, merupakan trigger bagi saya untuk memikirkan hati manusia yang begitu mudah berubah. mengingatkan saya akan sebuah do’a:

“Ya.. muqallibal quluub, tsabbit quluubana ‘ala to’atika wa ‘ala diinika”.

Memang esensi dari do’a tersebut bukanlah perubahan berbagai keputusan standar seperti mengganti hiasan rumah, merubah thema wordpress, menghapus dan memasang foto atau hal lain yang semisal. Esensi do’a tersebut berbicara tentang keimanan, dan keteguhan kita akan dien ini. saya berdo’a agar keimanan, ketakwaan dan keteguhan dalam menjalankan dien ini tidak berkuarang atau bahkan lepas dari genggaman. Na’udzu billah.

Iklan

Warna Hidup

Hemm…!, akhir pekan kemarin dapat pinjaman CD film dengan judul “Jagad X-code” (kalo pinjam CD film original untuk ditonton doank, tidak termasuk kategori membajak kan?). Film ini bercerita tentang tiga orang pemuda yang tinggal di sekitar Kali Code Yogyakarta, tentu saja disertai dengan berbagai permasalahan.

Salah satu adegan yang membuat saya tersenyum miris adalah gambaran seorang tukang cukur rambut yang biasa mangkal di salah satu sudut Alun-alun (kurang jelas sih Alun-alun Kidul apa Lor). Seorang tukang cukur yang sedang gundah karena alat cukurnya hilang dicuri dan dia tidak bisa membeli alat cukur yang baru. Mudahnya, penghasilannya sebagai tukang cukur tidak mencukupi untuk membeli alat cukur baru.

Begitu banyak fenomena seperti diatas. Banyak pedagang kaki lima yang penghasilannya tidak bisa untuk memperbaiki atau membuat gerobak baru. Bila gerobak itu rusak ia harus pontang-panting mencari pinjaman untuk memperbaikinya.

Idealnya, penghasilan seseorang mestinya bisa mencukupi untuk memperbaiki atau membeli barang-barang penunjang produktifitas dia. Seorang petani mampu membeli benih dan pupuk untuk bercocok tanam, para nelayan mampu mengibarkan layarnya tanpa harus bingung mengutang BBM, dan… sudah ah, ntar kayak iklan partai jadinya.

Kenyataan seperti itu tidak hanya dikalangan masyarakat kecil aja. Dikalangan professional juga meski tidak semua. Banyak teman-teman programmer mesti menabung sekian bulan untuk membeli sebuah hard disk external, apalagi untuk membeli satu unit notebook atau desktop, pasti nabungnya mesti berbulan-bulan atau mungkin ada yang bertahun-tahun???…