Cemburu Itu Menusukku

Kini cemburu itu datang kembali. cemburu akan orang-orang yang tak pernah berpikir panjang untuk berbuat sesuatu yang ia yakini kebenarannya.cemburu kepada setiap manusia yang tak pernah peduli akan cibiran orang-orang  disekitarnya. tidak peduli meski dunia tidak bersahabat. yakin akan idealismenya mesti kadang itu salah.

aku cemburu. cemburu terhadap orang-orang yang tidak takut berbuat salah dan tak pula malu mengakuinya. dan dengan lapang dada mencoba sekuat tenaga untuk memperbaiki setiap kesalahan yang pernah ia buat.

cemburu itu terus menghantuiku. cemburu akan orang yang terus saja berkarya, meski tak satupun yang menghargainya. yang selalu ada waktu untuk mengimplementasikan ide-idenya yang bakal jadi “sampah”.

aku cemburu karena tak satupun karya yang kuhasilkan hingga saat ini. setiap akan kumulai, kepalaku berteriak: “metodenya tidak bagus, akan menjadi karya yang buruk bila tidak didesain dengan tepat sejak awal”.

aku cemburu karena hanya bisa menjelekkan karya orang lain. dan aku… tak satupun yang ku hasilkan. banyak waktu yang tersedia tapi selalu bilang “nanti saja ku mulai, itu kan mudah”.

Thank to Pak “Roy Winata” (roy at ptgdi dot com)¬† atas gdi+ chapter One yang menginspirasi.

Iklan