Negeri Auto Pilot

Spanduk bertuliskan “Negeri Auto Pilot” sempat terbentang dibeberapa titik strategis di ibu kota awal tahun ini (2012). Meski keberadaannya hilang dalam sekejab dan tampaknya kurang popular, tapi kalimat ini membuat saya tersenyum getir. Ada sedikit humor yang coba diselipkan dalam kalimat yang menggambarkan betapa negeri ini berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Negara berjalan dengan sendirinya, bahkan andai kata tidak ada pemimpin didalamnya. Pemimpinan hanya sekedar jabatan formalitas saja dan menyelesaikan kegiatan-kegiatan administratif. Keberadaannya tidak banyak memberi arti.

Kondisi yang seperti ini layaknya manusia yang hidup tanpa tujuan yang jelas. Ia hanya sekedar menjalani kehidupan sehari-hari tanpa tahu apa yang ingin ia capai hari ini, besok, bulan depan, atau lima tahun lagi. Apa lagi cita-cita setalah mati. Kehidupannya mengalir saja seiring dengan waktu yang telah dilalui. Hari-harinya hanya berisi makan, tidur, bekerja, dan bersenang-senang. Memikirkan pekerjaannya saja mungkin sudah sangat sibuk, apalagi memikirkan cita-cita dan bagaimana cara menggapainya.

Kondisi auto pilot ini juga bisa terjadi di setiap organisasi. Terutama organisasi-organisasi yang sudah “mapan” yang kepemimpinannya dipegang oleh generasi ketiga atau lebih. Tujuan organisasi memang tertuang dalam AD/ART. Tapi para pemimpinnya hanya menjalankan tugas-tugas manajerial saja. Program kerjanya hanya sekedar mencontek dari tahun-tahun sebelumnya tanpa ada improvisasi. Jikapun ada hanya beda bentuk saja. Esensinya tidak banyak berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s