Di Gunung pun Banjir Tetap Menghantui

Malam begitu larut, bahkan jangkrik pun enggan mengeluarkan nyanyiannya. Mungkin ia juga terlelap seperti halnya diriku yang terbenam dalam selimut tebal. Udara perbukitan di sekitar Danau Matano yang dingin rupanya tak mampu menembus selimutku. Aku masih tidur.

Danau yang terletak di kota Sorowako Sulawesi Selatan ini hanya berjarak beberapa beberapa ratus meter dari tempatku menginap malam ini. Bila aku berdiri didepan pintu, sejauh mata memandang, akan tampak lukisan alam yang begitu memukau. Airnya sangat jernih bersumber dari ribun mata air bukan muara dari beberapa anak sungai. Danau yang termasuk dalam 10 besar danau terdalam ini memiliki luas 164.1 km persegi dan terletak diketinggian kurang lebih 423 meter diatas permukaan laut.

“Tuit.. tuit..”, Sayup-sayup terdengan suara alarm handphone yang sengaja aku pasang tepat jam setengah empat pagi. Tapi aku masih enggan beranjak dari tempat tidur. Kutarik selimut menutupi kepala, tapi suara itu tidak juga berhenti, bahkan semakin nyaring. Sengaja handphone aku letakkan di lantai bersampingan dengan tas, laptop, dan tumpukan baju bersih yang tertata rapi. Posisinya agak jauh dari tempat tidurku, agar aku bisa terbangun saat alarm berbunyi dan turun kelantai untuk mamatikan alarmnya. Bunyi alarm masih terus saja mengganggu, tapi aku masih enggan beranjak mematikannya.

Dari arah yang berbeda terdengar suara air tersiram ke lantai. “Pasti temanku yang tinggal di kamar sebelah sedang menggunakan kamar mandi”, pikirku seketika. Kamar mandi kami terletak diantara tiga buah kamar tidur. Dua buah kamar terisi oleh kami. Sedangkan satu kamar lainnya dibiarkan kosong dan terkunci. Kamar yang kosong tepat bersebelahan dengan kamar mandi. Sedang dua kamar kami berada di depannya dispisahkan oleh lorong yang menuju kearah ruang tamu.

Aku terus saja diam di bawah selimut berusaha memejamkan mata. Suara air sudah tidak terdengar berganti dengan suara adzan subuh dari masjid di kajauhan. Suaranya mengalun merdu menggugah orang-orang beriman untuk menunaikan panggilanNya. Adzan subuh sudah selesai, tapi rasanya tetap membekas memantapkan hatiku untuk membuka selimut. Aku ingin beranjak sholat. Seperti malam-malam sebelumnya, biasanya aku akan menuju saklar lampu kamar disebelah pintu. Menyalakan lampu, kemudian berjalan menuju handphone dan mematikan alarm yang terus saja berbunyi. Selanjutnya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan kemudian sholat.

Tapi malam ini, ketika kaki mulai menginjak lantai, saat menuruni tempat tidur yang cukup tinggi, hatiku ciut. Kakiku basah menginjak air, “Apa yang terjadi?”, pikirku. Terbayang masa kecil, “Apakah semalam ngompol hingga lantai basah!?”. Buru-buru akau menuju sakelar lampu, “Mungkin semalam hujan, dan atap kamar bocor!?” pikirku lagi.

Lampu menyala dengan cepat menerangi seisi kamar. Dua detik aku tertegun menyaksikan seluruh lantai kamarku terendam air setinggi setengah sentimeter. Reflek, aku sambar handphone yang masih berbunyi, mengambil laptop, dan keranjang berisi baju, serta semua yang ada di lantai. Tanpa sadar ternyata aku membawa banyak sekali barang dalam sekali angkut. Semuanya aku pindahkan ke meja makan di salah satu pojok ruang tamu. Saat melewati kamar mandi, aku menyadari ternyata suara air yang terdengar dari tempat tidur berasal dari saluran air yang krannya terlepas. Terus mengalir membanjiri tempat tinggal kami, membasahi seluruh lantai kami.

Aku letakkan seluruh barang yang kubawa di atas meja makan berbentuk bundar. Kemudian, sambil berlari menuju kamar mandi, aku gedor pintu kamar sebelah yang masih hening pertanda penghuninya belum menyadari banjir pagi ini. Sumber air sudah aku atasi, temanku pun sudah terbangun meski butuh sepersekian detik untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Bersama-sama kami menyelamatkan barang yang tergenang air dan sepuluh menit kemudian kami tertawa bersama, menyadari kalau kami tidak bisa terlepas dari banjir meski kami sedang tinggal di “gunung”.

Banjir pagi ini menyisakan korban dua buah handphone yang terendam, dua handphone lainnya terancam rusak termasuk handphone-ku yang sejak awal sebenarnya mencoba “mengabariku” akan musibah ini. Setumpuk pakain basah, tiga buah tas, dan tiga buah laptop juga setengah terendam. Tiga buah laptop berhasil kami nyalakan setelah membongkar baterai dan membersihkan sisa-sisa air yang menempel. “Untung bukan Ultrabook atau Macbook Air yang sangat tipis itu”, ujarku sambil tersenyum senang melihat nyala laptop kami. Handphone-handphone kami letakkan dibagian belakang laptop yang mengeluarkan panas.

Tepat jam tujuh pagi kami berkemas menuju kantor, membawa laptop, mouse, dan charger tanpa tas karena tas kami basah. Kami menjadi pusat perhatian karena cara kami mebawa barang yang tidak biasa. Dan kami hanya tersipu, kadang juga tertawa, setiap kali ada yang bertanya, “Kemana tas laptopnya?”. Ritual membongkar handphone dan meletakkannya dibelakang laptop dibagian yang mengeluarkan panas kami teruskan dikantor. Selepas sholat jum’at kami coba nyalakan kembali handphone-handphone kami. Sukurlah semua bisa menyala kembali. Rupanya pagi ini kami termasuk orang yang beruntung :).

Menginjakkan Kaki di Negeri Sultan Hasanuddin

“Wah saya kira kantor post satpam Intercon pak”, kata sopir taxi yang datang menjemput didepan Kantor Pos Indonesia. Gara-gara kesalahan komunikasi ini saya terpaksa menunggu taksi yang sudah saya pesan 30 menit lamanya. Intercon merupakan salah satu kawasan bisnis di area Jakarta Barat. Ada banyak ruko disana. Kawasan ini terleak di ujung barat Jalan Meruya Ilir, sedangkan kantor Pos yang saya maksud terletak diujung timur di jalan yang sama. Untunglah operator taxinya menelpon saya sehingga saya bisa menjelaskan lebih detail di mana saya berada.

Setelah memasukkan barang ke dalam bagasi, taxi melaju dengan cepat ke arah barat. Tentu saja setelah saya berada di dalamnya. Tidak lama kemudian, supir taxi membawa mobilnya memutar ke utara mengikuti petunjuk jalan menuju bandara Soekarno Hatta. Waktu subuh belum tiba, tetapi geliat kehidupan Jakarta tetap saja tidak berhenti. ada banyak kendaraan yang melaju kencang di jalan tol menuju bandara. Jalanan masih sepi bila dibanding dengan Jakarta siang hari. Maklum malam masih menyisakan sepertiga bagian terakhirnya. Tiga puluh menit kemudian akhirnya sampai di bandara, terminal A1.

Tiba dibandara, ternyata sudah kayak pasar. Ada banyak orang dengan urusannya sendiri-sendiri. Sebagian berkerumun, antara dua atau tiga orang bahkan lebih. Saya mencoba mencari tempat duduk karena mesti menunggu teman yang bawa tiket. Tapi tidak ada celah yang tersisa. Terpaksa berdiri dekat pintu masuk terminal 1A. Tidak berapa lama teman yang saya tunggu tiba. Berdua kita memasuki terminal 1A, antri checkin dan mendapatkan borading pass. Setelah itu, menuju ke ruang tunggu di Gate 5, solat subuh di musolla yang sempit yang terletak diantara dua toilet. Toilet pria dan wanita. 10 menit kemudian boarding dan melesat menuju Bandara Sultan Hassanuddin Makasar.