Dikala Mie Instant Mempengaruhi Sendi-sendi Kehidupan

Hemm.. jangan-jangan gara-gara doyang mie instan, rasanya semua pengen serba instan. Kaya dengan instan, pintar dengan instan, lulus dengan instan, mengajar dengan instan sambil berharap menghasilkan murid-murid luar biasa dengan cara instan pula.

Berharap bisa menghafal dengan instan, berbahasa inggris dengan instan, alim secara instan, apa lagi ya..? pokoknya semuanya dah. Hari ini belajar atau diajari, besok pagi sudah jadi expert dan mengerti tentang segala hal.

Rasanya sudah lupa kalau semua itu butuh proses yang sangat panjang, dan Allah melihat pada prosesnya. di mataNya tidak berguna hasil yang wah.. apabila diraih dengan cara-cara yang salah. Rasanya juga sudah lupa kalau proses yang panjang itu butuh senjata yang bernama sabar. Sabar menapaki tahapan-tahapan proses, cobaan satu ke cobaan yang lain, serta sabar menghadapi segala rintangan yang menghadang.

Budaya instan ini juga membuat penganutnya enggan/malas berusaha lebih keras dan cenderung memilih cara-cara yang menyimpang dari pakem.  Bukan mengajar dan menuntun dengan penuh kasih sayang, malah mengancam dan menekan, serta memberi beban yang sangat berat pada buah hatinya agar putra-putrinya lulus dengan nilai yang membuat bangga orang tuanya.Ya.., hanya demi kepentingan orang tua, tanpa melihat kondisi anak. Bahkan hanya demi rasa bangga, jalur pintaspun dengan mudah dilalui.

Iklan

Mewarnai Mimpi

Hanya mimpi yang berwarnalah yang akan menjadi nyata

Mimpi itu telah lama tertimbun oleh lapisan debu. Entah sejak kapan mimpi itu muncul, aku sudah lupa. Seiring dengan berlalunya waktu, debu yang menutupinya semakin tebal, tapi aku enggan menguburnya. Sesekali aku bersihkan, tapi tak sampai benar-benar bersih. Aku takut bila sudah bersih, keindahannya membuatku terbuai. Tapi aku juga tidak rela mencampakkannya. Sesekali ingin rasanya membuat mimpi itu bersih tanpa debu kemudian mewarnainya, tapi ketakutanku membuat kakiku enggan melangkah.

Terakhir kali dorongan yang cukup kuat muncul sebulan lalu. Ternyata dorongan itu bukan dariku, tapi dari orang lain yang entah sengaja atau tidak menusuk rasa takutku dan membuatnya terburai. Sebenarnya  sasaran belati itu adalah hatiku. Untung saja meleset, dan hanya menorehkan goresan kecil meski terasa amat pedih.

Aku melangkah, perlahan menggapai mimpi yang berdebu itu. Dengan sedikit gemetar aku coba membersihkannya. Sedikit demi sedikit debu yang menutupi mulai hilang. Berdebar hatiku melihat debu-debu terbang menjauh. Belum tuntas membersihkan debu-debu penutup mimpi ini, rasa takutku mencul kembali, tumbuh, dan mencoba menguasai kembali. Benar kata orang, penyakit takut itu bagaikan kanker, sedikit saja ada peluang akarnya yang bertahun menghujam akan tumbuh dengan subur.

“Mumpung masih belum menguasai aku akan melawan!” ujarku saat menyemangati diri. Bayangkan saja seperti apa rasanya berperang melawan rasa takutku sendiri. Jauh lebih sakit dari pada goresan belati di hatiku tadi. Tapi sukurlah, Seiring dengan menghilangnya seluruh debu yang menutup mimpiku, rasa takutku mulai menghilang. Aku menang.

Kini aku sadar apa yang aku mimpikan, tapi warnanya masih hitam putih, dan tugaskulah mewarnainya. Berbagai warna aku goreskan agar mimpi itu menjadi jelas dan nyata. Karena hanya mimpi yang berwarnalah yang akan menjadi kenyataan. Goresan-goresan pertama dilalui dengan indah dan menyenangkan.

Ah, tapi tak sampai sepuluh goresan terlewati, godaan lain muncul. Ada tawaran untuk mewarnai mimpi orang lain. Mimpi yang sekilas tampak jauh lebih indah dari mimpiku, atau memang benar-benar lebih indah. Mimpi yang ditawarkan adalah mimpi yang penuh dengan gedung-gedung tinggi dan orang-orang berdasi. Sangat indah memang. Tapi sayang, bila aku mulai mewarnai mimpi orang, mimpiku sendiri bakal kembali diselimuti debu. Debu yang dengan pasti kian hari kian tebal. Kian hari memupuk rasa takutku pula, dan tidak butuh waktu yang lama untuk kembali menguasaiku.

Oh, andai saja aku bisa mewarnai mimpiku dan mimpinya…