Dikala Mie Instant Mempengaruhi Sendi-sendi Kehidupan

Hemm.. jangan-jangan gara-gara doyang mie instan, rasanya semua pengen serba instan. Kaya dengan instan, pintar dengan instan, lulus dengan instan, mengajar dengan instan sambil berharap menghasilkan murid-murid luar biasa dengan cara instan pula.

Berharap bisa menghafal dengan instan, berbahasa inggris dengan instan, alim secara instan, apa lagi ya..? pokoknya semuanya dah. Hari ini belajar atau diajari, besok pagi sudah jadi expert dan mengerti tentang segala hal.

Rasanya sudah lupa kalau semua itu butuh proses yang sangat panjang, dan Allah melihat pada prosesnya. di mataNya tidak berguna hasil yang wah.. apabila diraih dengan cara-cara yang salah. Rasanya juga sudah lupa kalau proses yang panjang itu butuh senjata yang bernama sabar. Sabar menapaki tahapan-tahapan proses, cobaan satu ke cobaan yang lain, serta sabar menghadapi segala rintangan yang menghadang.

Budaya instan ini juga membuat penganutnya enggan/malas berusaha lebih keras dan cenderung memilih cara-cara yang menyimpang dari pakem.  Bukan mengajar dan menuntun dengan penuh kasih sayang, malah mengancam dan menekan, serta memberi beban yang sangat berat pada buah hatinya agar putra-putrinya lulus dengan nilai yang membuat bangga orang tuanya.Ya.., hanya demi kepentingan orang tua, tanpa melihat kondisi anak. Bahkan hanya demi rasa bangga, jalur pintaspun dengan mudah dilalui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s