Al-umm madrasatul ulaa

Al-umm madrasatul ulaa

Secara sederhana, peran beserta tugas-tugas seseorang dalam sebuah rumah tangga bisa di bagi menjadi:

  1. Asisten Rumah Tangga
    • Bersih-bersih
    • Memasak
    • Belanja kebutuhan sehari-hari
  2. Babysitter
    • Nungguin anak bermain
    • Nyuapin anak saat makan
    • Memandikan anak saat waktunya mandi
    • Memakaikan baju
  3. Guru
    • Mendidik anak
    • Mengajarkan anak berbagai kebaikan
    • Melatih anak berbuat baik dan belajar
    • Ikut bermain sambil belajar
  4. Orangtua
    • mencari nafkah
    • bisa mengambil semua peran baik sebagai Asisten rumah tangga, babysitter, maupun seorang guru. Yang pasti bukan berperan sebagai anak :). Bila tidak bisa semuanya, yang paling bagus adalah menjadi seorang guru bagi anak-anaknya. Kan pepatah arab bilang: “Al-umm madrasatul ulaa”. Ibu (orang tua) itu adalah sekolah pertama (bagi anak-anaknya).

    Tentu saja itu hanya sebuah gambaran sederhana. Pada kenyataannya, ada lebih banyak peran dan tugas-tugas lain yang tidak di tuliskan, bahkan mungkin tulisan saja tidak cukup untuk menggambarkannya.

Tipe-tipe Programmer Dengan Dengan Tumpukan Project-nya

Jika seorang programmer biasa mengerjakan 3 project, atau bahkan lebih, secara bersamaan, ada beberapa kemungkinan mengenai programmer tersebut. Bukan satu project dan project lainnya lagi idle karena menunggu feedback user, atau lagi user testing. Tapi benar-benar tiga project yang jalan secara bersamaan. Waktu perharinya dibagi 30% untuk coding project A, 30% untuk coding project B, dan seterusnya.

Kemungkinan pertama, ia bekerja 16 jam perhari. Mungkin managernya berdiri dibelakang mengawasi sambil bawa cambuk. Yang seperti ini sering kita temui meski tidak bawa cambuk beneran sih…

Kemungkinan kedua, programmernya sangat sakti dengan kemampuan tingkat dewa. Dengan hanya 8 jam sehari, 3 project selesai dengan mulus walaupun timline masing-masing project sangat ketat. Tapi kenyataannya, programmer tingkat dewa sangat susah didapat. Kalau sudah dapat programmer tipe ini, jangan dilepas deh, soalnya mudah lepas karena banyak yang ngincer 🙂

Kemungkinan ketiga, programmernya pinter seperti programmer kebanyakan, tapi cuek bebek. Deadline yang terpampang tidak terlihat. Yang penting dia bekerja. Semua project molor jauh dari target bukan urusannya. Atau bahkan jika tidak ada yang kelar, ia tetap cuek melnggang tanpa ada rasa bersalah. Prinsipnya cuma satu, “Seberat-beratnya pekerjaan, akan terasa ringan kalau tidak dikerjakan”. Nah.. loh.. 🙂

Tulisan Pertama Di Tahun 2013

Tahun 2013 hampir berakhir dan hanya tersisa 2 bulan lagi. Tapi di-blog ini tak satupun tulisan muncul sejak awal tahun hingga akhirnya tulisan ini dibuat. Bisa dikatakan, sepanjang tahun tak pernah menulis lagi. Kenapa?

Banyak alasan yang bisa dicari, tapi pasti itu hanya sekadar alasan yang dibuat-buat. Setidaknya bagi saya. Makanya ribuan alasan itu tidak saya tuliskan disini.

Mulai detik ini, meski perlahan, komitmen menulis di blog harus diperbarui. Lah, menteri saja masih sempat menulis setiap minggu. Padahal semua orang tahu kalau tugas seorang menteri itu sangat banyak dan pasti sibuk banget. Tapi tetap saja bisa menulis. Jadi, ayo menulis…!

Quotes of The Day

Hari ini banyak membaca tentang kehidupan orang-orang, tapi seperti biasa belum tentu yang dibaca bisa diamalkan. Aku selalu berdo’a agar dimudahkan dalam mengamalkan ilmu yang telah aku dapatkan. Andaikata aku lupa terhadap apa yang aku baca atau belum bisa mengamalkan dengan baik, dengan menuliskannya, aku berharap orang lain bisa mengambil pelajaran dari apa yang aku baca dan aku tuliskan. Semoga…

Ada banyak hal aneh dari tingkah polah manusia. Misalnya saja merokok. Banyak orang tua (baca: ayah) yang tidak menghendaki anaknya merokok. Bahkan tidak jarang yang memarahi atau memberi hukuman bila mendapati anaknya sedang merokok. Tapi sayang sang bapak adalah seorang perokok.

Ada banyak orang tua yang marah bila anaknya dimarahi oleh orang lain. Bahkan tidak sedikit yang tidak terima bila guru yang mengajari anaknya di sekolah memberikan hukuman. Tapi sayang, orang tua yang tidak terima anaknya dimarahin orang lain, dengan mudahnya menghardik, mengancam, bahkan memukul anaknya sendiri tanpa rasa bersalah.

Tidak sedikit orang yang berdalih hukuman orang tua adalah salah bentuk cinta dan kasih sayang. Ah.., tapi sebagai anak, aku tidak pernah merasakan cinta terpancar dari orang tuaku saat ia sedang memarah.

Betapa banyak pelajaran dari perilaku manusia. Bila kamu sedang dimarahi seseorang, entah itu guru, teman, atau orang tua, Coba saja tanyakan padanya, “Apakah kamu sedang memarahiku?”. Bisa dipastikan 80% dari mereka akan menjawab “Tidak!”. Hemm.. Wahai orang yang marah tapi merasa marah, tidak berguna lagi nasihat nabi yang berbunyi:  “Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, berbaringlah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan berbaring, segera bangkit dan ambil air wudhu untuk bersuci dan lakukan shalat sunah dua rakaat.”

Pelajaran yang lain? engkau akan mendapati banyak orang yang bila dinasehati ia akan berkata: “Aku sudah tahu itu dari dulu”, “aku sudah belajar agama sejak kecil, jadi tak perlu kau nasehati lagi”, atau kalimat-kalimat penolakan lainnya yang semisal dengan itu. Ia tidak menyadari, banyak sekali orang-orang yang sudah pandai tapi enggan mengamalkan ilmuanya. Entah itu lupa atau pura-pura lupa, auatu mungkin memang enggan saja, tidak ada alasan lainnya. Hem.. rupanya ia lupa bahwa saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaranlah yang menjadi penyelamat kita dari golongan orang-orang yang merugi (Q.S. Al-Asr).

Coba saja tanyakan pada para koruptor itu tentang korupsi. Dan kau akan mendapatkan penjelasan yang panjang lebar bahkan tak cukup tinta untuk menuliskannya. Dan bila kau tanyakan pula kenapa ia korupsi, ribuan kalimatpun akan berhamburan darimulutnya yang kotor hanya untuk menyangkalnya.

Bisa kamu lihat pula sebagian manusia berharap orang mengerti isi hatinya padahal ia tak pernah mengungkapkan apa yang ada dihatinya. Sedangkan mata hanya bisa melihat apa yang tampak saja. masalah yang ghoib bukan bagian yang bisa diterima indra. Tapi mereka tidak mau mengerti.

Lebih dahsat lagi bila sikap yang ia tunjukan jauh berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam hatinya. Mata melihat ia gugup, indera yang lain merasakan ia gemetar. Tapi sayang, kalimat yang meluncur dari mulutnya menyatakan ia tidak sedang demam panggung. Hemm…

 

Dikala Mie Instant Mempengaruhi Sendi-sendi Kehidupan

Hemm.. jangan-jangan gara-gara doyang mie instan, rasanya semua pengen serba instan. Kaya dengan instan, pintar dengan instan, lulus dengan instan, mengajar dengan instan sambil berharap menghasilkan murid-murid luar biasa dengan cara instan pula.

Berharap bisa menghafal dengan instan, berbahasa inggris dengan instan, alim secara instan, apa lagi ya..? pokoknya semuanya dah. Hari ini belajar atau diajari, besok pagi sudah jadi expert dan mengerti tentang segala hal.

Rasanya sudah lupa kalau semua itu butuh proses yang sangat panjang, dan Allah melihat pada prosesnya. di mataNya tidak berguna hasil yang wah.. apabila diraih dengan cara-cara yang salah. Rasanya juga sudah lupa kalau proses yang panjang itu butuh senjata yang bernama sabar. Sabar menapaki tahapan-tahapan proses, cobaan satu ke cobaan yang lain, serta sabar menghadapi segala rintangan yang menghadang.

Budaya instan ini juga membuat penganutnya enggan/malas berusaha lebih keras dan cenderung memilih cara-cara yang menyimpang dari pakem.  Bukan mengajar dan menuntun dengan penuh kasih sayang, malah mengancam dan menekan, serta memberi beban yang sangat berat pada buah hatinya agar putra-putrinya lulus dengan nilai yang membuat bangga orang tuanya.Ya.., hanya demi kepentingan orang tua, tanpa melihat kondisi anak. Bahkan hanya demi rasa bangga, jalur pintaspun dengan mudah dilalui.

Mewarnai Mimpi

Hanya mimpi yang berwarnalah yang akan menjadi nyata

Mimpi itu telah lama tertimbun oleh lapisan debu. Entah sejak kapan mimpi itu muncul, aku sudah lupa. Seiring dengan berlalunya waktu, debu yang menutupinya semakin tebal, tapi aku enggan menguburnya. Sesekali aku bersihkan, tapi tak sampai benar-benar bersih. Aku takut bila sudah bersih, keindahannya membuatku terbuai. Tapi aku juga tidak rela mencampakkannya. Sesekali ingin rasanya membuat mimpi itu bersih tanpa debu kemudian mewarnainya, tapi ketakutanku membuat kakiku enggan melangkah.

Terakhir kali dorongan yang cukup kuat muncul sebulan lalu. Ternyata dorongan itu bukan dariku, tapi dari orang lain yang entah sengaja atau tidak menusuk rasa takutku dan membuatnya terburai. Sebenarnya  sasaran belati itu adalah hatiku. Untung saja meleset, dan hanya menorehkan goresan kecil meski terasa amat pedih.

Aku melangkah, perlahan menggapai mimpi yang berdebu itu. Dengan sedikit gemetar aku coba membersihkannya. Sedikit demi sedikit debu yang menutupi mulai hilang. Berdebar hatiku melihat debu-debu terbang menjauh. Belum tuntas membersihkan debu-debu penutup mimpi ini, rasa takutku mencul kembali, tumbuh, dan mencoba menguasai kembali. Benar kata orang, penyakit takut itu bagaikan kanker, sedikit saja ada peluang akarnya yang bertahun menghujam akan tumbuh dengan subur.

“Mumpung masih belum menguasai aku akan melawan!” ujarku saat menyemangati diri. Bayangkan saja seperti apa rasanya berperang melawan rasa takutku sendiri. Jauh lebih sakit dari pada goresan belati di hatiku tadi. Tapi sukurlah, Seiring dengan menghilangnya seluruh debu yang menutup mimpiku, rasa takutku mulai menghilang. Aku menang.

Kini aku sadar apa yang aku mimpikan, tapi warnanya masih hitam putih, dan tugaskulah mewarnainya. Berbagai warna aku goreskan agar mimpi itu menjadi jelas dan nyata. Karena hanya mimpi yang berwarnalah yang akan menjadi kenyataan. Goresan-goresan pertama dilalui dengan indah dan menyenangkan.

Ah, tapi tak sampai sepuluh goresan terlewati, godaan lain muncul. Ada tawaran untuk mewarnai mimpi orang lain. Mimpi yang sekilas tampak jauh lebih indah dari mimpiku, atau memang benar-benar lebih indah. Mimpi yang ditawarkan adalah mimpi yang penuh dengan gedung-gedung tinggi dan orang-orang berdasi. Sangat indah memang. Tapi sayang, bila aku mulai mewarnai mimpi orang, mimpiku sendiri bakal kembali diselimuti debu. Debu yang dengan pasti kian hari kian tebal. Kian hari memupuk rasa takutku pula, dan tidak butuh waktu yang lama untuk kembali menguasaiku.

Oh, andai saja aku bisa mewarnai mimpiku dan mimpinya…

Menginjakkan Kaki di Negeri Sultan Hasanuddin

“Wah saya kira kantor post satpam Intercon pak”, kata sopir taxi yang datang menjemput didepan Kantor Pos Indonesia. Gara-gara kesalahan komunikasi ini saya terpaksa menunggu taksi yang sudah saya pesan 30 menit lamanya. Intercon merupakan salah satu kawasan bisnis di area Jakarta Barat. Ada banyak ruko disana. Kawasan ini terleak di ujung barat Jalan Meruya Ilir, sedangkan kantor Pos yang saya maksud terletak diujung timur di jalan yang sama. Untunglah operator taxinya menelpon saya sehingga saya bisa menjelaskan lebih detail di mana saya berada.

Setelah memasukkan barang ke dalam bagasi, taxi melaju dengan cepat ke arah barat. Tentu saja setelah saya berada di dalamnya. Tidak lama kemudian, supir taxi membawa mobilnya memutar ke utara mengikuti petunjuk jalan menuju bandara Soekarno Hatta. Waktu subuh belum tiba, tetapi geliat kehidupan Jakarta tetap saja tidak berhenti. ada banyak kendaraan yang melaju kencang di jalan tol menuju bandara. Jalanan masih sepi bila dibanding dengan Jakarta siang hari. Maklum malam masih menyisakan sepertiga bagian terakhirnya. Tiga puluh menit kemudian akhirnya sampai di bandara, terminal A1.

Tiba dibandara, ternyata sudah kayak pasar. Ada banyak orang dengan urusannya sendiri-sendiri. Sebagian berkerumun, antara dua atau tiga orang bahkan lebih. Saya mencoba mencari tempat duduk karena mesti menunggu teman yang bawa tiket. Tapi tidak ada celah yang tersisa. Terpaksa berdiri dekat pintu masuk terminal 1A. Tidak berapa lama teman yang saya tunggu tiba. Berdua kita memasuki terminal 1A, antri checkin dan mendapatkan borading pass. Setelah itu, menuju ke ruang tunggu di Gate 5, solat subuh di musolla yang sempit yang terletak diantara dua toilet. Toilet pria dan wanita. 10 menit kemudian boarding dan melesat menuju Bandara Sultan Hassanuddin Makasar.